Beranda Nasional Luhut: Penyanderaan di Papua Cenderung Tindakan Kriminal

Luhut: Penyanderaan di Papua Cenderung Tindakan Kriminal

366
0
Sebarkan
ca079ee09d9e0bafa077468bfc7f82033b5fba4e
Menteri Koordinator Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan saat dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Rabu, 12 Agustus 2015.

Jakarta, sewarga.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan penyanderaan dua warga Indonesia (WNI) oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM), hanya merupakan tindakan kriminal.

“Sampai sekarang cenderung tindakan kriminal. Tidak ada kaitan dengan masalah politik,” ucap Luhut di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (14/9).

Ia mengatakan atase pertahanan pemerintah saat ini telah tiba di Vanimo untuk berkomunikasi untuk pembebasan dua WNI yang disandera. Luhut mengungkapkan pihak Kementerian Luar Negeri, Kodam dan Polda setempat terus melakukan komunikasi.

“Lihat perkembangan esok pagi gimana,” tuturnya.

Diketahui, dua WNI yakni Sudirman dan Badar diculik dan dibawa ke Skouwtiau, Vanimo, Papua Nugini. Keduanya merupakan penebang kayu yang berkerja di perusahaan penebangan kayu di Skofro, Dirstik Keerom Papua.

Penyandera memberi waktu 72 jam sejak 11 September lalu. Oleh karena lokasi penyanderaan tak lagi di Indonesia, melainkan lintas batas negara, maka Komando Daerah Militer TNI mengontak Konsulat Jenderal RI di Vanimo dan meminta bantuan Bupati Vanimo serta tentara PNG untuk membebaskan dua WNI yang disandera.

Klaim dari OPM

Sementara itu, Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Saul Bomay menyebut penyanderaan terhadap dua warga negara Indonesia di Papua Nugini dipimpin oleh Lucas Bomay dari Dewan Komando Revolusi Militer OPM Republik Papua Barat. Penyanderaan, kata Saul, bukan dikomandoi Kelompok Jeffrey seperti yang sebelumnya disebutkan oleh Tentara Nasional Indonesia.

Menurut Saul, berbeda dengan Lucas yang memimpin operasi di lapangan, Jeffrey lebih banyak bekerja di belakang meja atau belakang layar.

Jeffrey, kata Saul, merupakan Juru Runding OPM yang kerap bekerja di luar negeri. “Jeffrey lebih pada diplomasi internasional,” ujar Saul.

Menurut dia, penyanderaan dilakukan agar pemerintah mau menerima tawaran OPM untuk berunding dalam satu meja. Perundingan diminta dilakukan di luar negeri dengan dimediasi oleh negara ketiga yang independen.

Materi perundingan yang ingin dibicarakan OPM adalah soal solusi pemerintah untuk berbagai masalah yang ada di Papua.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Endang Sodik menyebut pelaku penyanderaan adalah OPM Kelompok Jeffrey. Kelompok ini jadi buruan polisi sejak 2012 karena terlibat dalam penyerangan Polsek Abepura.

OPM kini menyandera dua WNI dan ingin dua orang itu ditukar dengan pembebasan rekan mereka yang ditahan di Polres Keerom karena terlibat kasus ganja.

berbagai sumber

 


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.