Beranda Politik Konflik Golkar: Kedua Kubu Mengubah Kesepakatan

Konflik Golkar: Kedua Kubu Mengubah Kesepakatan

129
0
Sebarkan

golkar-kisruh-kemelut_20141217_005154Jakarta, sewarga.com – Nasib dan masa depan partai Golkar kian tak menentu. Setelah sebelumnya kedua kubu yang berseteru sudah menyepakati akan menggelar Munaslub yang menurut rencana akan diselenggarakan pada bulan Oktober mendatang. Kini, kedua kembali  tersebut kembali mengubah kesepakatan tersebut, dari setuju menjadi tidak setuju untuk menggelar Munaslub, yang merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan partai Golkar kedepannya,

Ancaman kehancuran partai Golkar semakin tak terhindarkan, bahkan hingga kini konflik tidak hanya terjadi ditingkat pusat saja, melainkan sudah sampai tingkat daerah yang terpecah-belah lantaran sikap dua kubu yang masih terus berkonflik. Konflik partai Golkar telah menunjukkan kehancuran yang masif, karena kehancuran Golkar dengan cepatnya sudah merembet ke daerah-daerah, dan jika kehancuran tersebut sudah masif, maka jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Golkar agar tidak menjadi seperti ‘’Dinosaurus’’ adalah dengan menyelenggarakan Munaslub yang menjadi senjata paling ampuh untuk menyelamatkan salah satu partai paling berpengaruh pada orde baru tersebut.

Sebelumnya, diketahui bahwa kedua kubu sudah bersepakat untuk menggelar Munaslub pada Oktober mendatang, yang tujuannya adalah untuk menyelamatkan partai Golkar dari kehancuran. Salah satu dari anggota kubu Munas Ancol, Yorrys Raweyai yang akan menyelenggarakan Munaslub terus ditentang, dan penolakan terhadap wacana tersebut ditolak oleh kubu Munas Ancol, padahal Yorrys merupakan bagian dari kubu Munas Ancol, tapi kini Munas Ancol seakan juga sudah terbelah dan terpecah, hal tersebut ditunjukkan oleh sikap Agung Laksono yang menolak menyelenggarakan Munaslub tersebut, dan hanya lebih memilih untuk menunggu keputusan hukum, terkait siapa yang berhak jadi Ketua Umum Golkar yang sah.

Seharusnya kedua kubu tetap pada konsistensi masing-masing, yakni menyelenggarakan Munaslub tersebut, karena Munaslub menjadi satu-satunya cara menyelamatkan Golkar, dan sudah seharusnya pula kedua kubu menurunkan ego masing-masing, karena jika tidak sesungguhnya Golkar akan benar-benar tamat dan hilang dari dunia politik tanah air. Peluang melahirkan Golkar baru malah akan lebih menguntungkan Golkar, karena masyarakat memandang bahwa Golkar bisa secara baik-baik menyelesaikan konflik yang selama ini terjadi di internal Golkar, walaupun harus melahirkan Golkar baru. Lahirnya Golkar baru memang ada plus dan minusnya. Plusnya, Golkar akan dipandang sebagai partai yang mampu menyelesaikan masalah internal tanpa meninggalkan dendam antar kedua kubu, sedangkan minusnya, lahirnya Golkar baru selain meramaikan dunia politik Indonesia, juga menjadi saingan Golkar pada setiap pemilu berlangsung, dan hal tersebut tak perlu dipermasalahkan dan tidak bakal jadi masalah, karena negara demokrasi memang melahirkan banyak partai yang tujuannya adalah untuk mematangkan demokrasi bagi rakyat.

Namun, jika Golkar tetap mengedepankan ego dan tetap saling sikut merebut posisi Ketua Umum, maka sudah dapat dipastikan Golkar akan menjadi salah satu partai yang mengalami kepunahan, lantaran citranya sudah hancur, termasuk pula para konstituennya yang secara mutlak akan meninggalkan partai berlambang pohon beringin tersebut, karena sesungguhnya, konstituen Golkar sudah muak melihat arogansi-arogansi yang selama ini sudah dipertontonkan pada publik oleh kedua kubu dalam Golkar, kubu Ancol dan kubu Bali. Berbagai upaya pun sudah dilakukan untuk menyelamatkan Golkar, namun apa daya Golkar rupanya mau punah dan hancur tanpa bersisa jika manakala tidak mau atau membatalkan Munaslub tersebut.

Penulis: Ricky Vinando
Editor : Hafid zaen


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.