Beranda Nasional Satu Personel TNI Diamankan Terkait Pembunuhan Sadis

Satu Personel TNI Diamankan Terkait Pembunuhan Sadis

349
0
Sebarkan

Ilustrasi-pembunuhanJakarta, sewarga.com – Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispen AD) Brigadir Jenderal Wuryanto membenarkan telah mengamankan satu orang berinial SJ, Anggota Batlyon Infanteri 752 Teluk Bintuni, di Papua Barat. SJ diamankan terkait peristiwa pembantaian keluarga warga sipil bernama Yulius Hermanto yang terjadi di Papua Barat.

“Iya benar bahwa kami telah mengamankan seorang anggota dari Angkatan Darat berinisial SJ berpangkat Prajurit Dua yang bertugas di Balatyon 752 Papua. Sampai saat ini masih dalam pemeriksaan dan ditahan di Detasemen POM.” ujar Wuryanto kepada CNN Indonesia, Jumat (18/9).

Wuryanto menuturkan, telah menerima informasi terkait peristiwa pembunuhan sadis terhadap warga sipil pada 26 Agustus 2015. Ada tiga korban jiwa dalam pembantaian tersebut, yaitu FDS, istri seorang warga bernama Yulius; dan kedua anaknya yang berinisial DH dan AH.

Menurut Wuryanto, kronoligi penangkapan SJ bermula saat dilakukan pengecekan telepon genggam milik korban. Kepolisian berkordinasi dengan Batalyon 752 mendapati handphone tersebut dipegang oleh SJ.

Wuryanto mengatakan, SJ mengaku handphone tersebut milik rekannya yang sudah diamankan oleh Polda Papua Barat. Namun pengakuan SJ tersebut tidak serta merta diterima petugas Detasemen POM.

“Dari handphone korban kami dapati pesan singkat yang berisi rayuan dan ancaman dari nomor yang masih kami selidiki,” ujarnya.

Wuryanto menjelaskan, Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Mulyono telah menginstruksikan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Dia memastikan, TNI dan Polri tidak akan menutupi penyelidikan kasus tersebut.

Dia meminta keluarga dan masyarakat bersabar, serta tidak melakukan hal-hal yang menghambat proses penyelidikan.

Kapolda Papua Barat Brigadir Jenderal Royke Lumowa membenarkan ada pemeriksaan saksi terkait peristiwa pembunuhan sadis di wilayahnya. Polisi menemukan

Kapolda Papua Barat Brigadir Jenderal Royke Lumowa mengungkapkan bahwa hingga kini baru ada sejumlah saksi yang diperiksa. “Yang berkaitan dengan tempat kejadian perkara ada 14 orang, dari 14 itu kami mengerucut kepada lima saksi dan mereka saling mengenal,” kata Royke saat dihubungi, Jumat (18/9).

Kelima orang tersebut, kata Royke, merupakan teman yang pada malam sebelum kejadian pembunuhan terjadi diduga minum-minum bersama di bandara dekat lokasi pembunuhan. Royke pun mengaku bahwa salah satu dari lima orang tersebut bukanlah warga sipil.

“Salah satunya memang ada anggota TNI,” kata Royke.

Menurut Royke, kasus ini diselidiki bersama oleh TNI dan Polri. Royke mengatakan, dirinya langsung berkomunikasi dengan pihak komando resimen polisi militer setempat dan saat itu pihak POM sangat responsif.

“Mereka bergabung ke kita untuk penyelidikan bersama. Sampai saat ini sangat responsif,” katanya.

Terkait saksi-saksi yang telah diperiksa, Royke mengungkapkan, mereka diperiksa berdasarkan fakta di lapangan. Termasuk soal ponsel korban yang digunakan saksi untuk menghubungi keluarga korban.

Hingga kini kepolisian belum menetapkan tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.

Pembunuhan sadis ini terjadi pada 25 Agustus 2015 saat FDS beserta kedua anaknya sedang berada di rumah. Sementara sang suami, Yulius Hermanto, yang bekerja sebagai kepala sekolah pergi pukul 06.30 WIT untuk mengantar perwakilan guru yang berkunjung ke sekolah.

Saat Yulius pergi, pembunuhan tersebut terjadi. FDS dikabarkan tewas setelah diperkosa dan dibunuh dengan sadis, diduga menggunakan senjata tajam. Sementara kedua anaknya dibunuh lantaran melihat kejadian pembunuhan ibunya.

Kedua korban, menurut Royke, baru ditemukan meninggal dua hari setelah pembunuhan, 27 Agustus. Yulius yang melihat keadaan istri dan anaknya sudah tewas mengenaskan hingga kini masih terganggu pikirannya.

Saat ditanya, Yulius mengaku tidak kenal dengan terduga pelaku. “Yulius mengaku tak kenal tapi katanya dia sering melihat terduga pelaku lewat depan rumahnya,” kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait.

Komnas PA baru saja mendatangi Badan Reserse Kriminal Polri untuk meminta dukungan terkait kasus pembunuhan sadis tersebut.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.