Beranda Nasional Curhat WNI yang Disandera: Ditelanjangi, Disiksa, Disuruh Teriak “Papua Merdeka”

Curhat WNI yang Disandera: Ditelanjangi, Disiksa, Disuruh Teriak “Papua Merdeka”

69
0
Sebarkan

wni-ngaku-disiksa-saat-disandera-fXEPapua, sewarga.com – Dua warga Negara Indonesia yang diculik selama sembilan hari oleh sekelompok orang bersenjata yang dibawa ke Papua Nugini (PNG), ternyata sempat berusaha melarikan diri. Mereka mencoba lari dari cengkeraman penculik, namun usahanya gagal karena tidak menguasai lokasi penyanderaan. Ketika tertangkap, kelompok bersenjata itu menganiaya mereka dan menelanjangi mereka.

Penculikan berawal dari penembakan rekan mereka Yakuba (36) di pagi hari, Rabu 9 September yang terjadi Kampung Skopro, Distrik Arso Timur Kabupaten Keerom, berjarak 100 meter dari perbatasan RI-Papua Nugini (PNG). Tertembak dan dipanah kelompok sipil bersenjata, Yakuba pun jatuh, kelompok sipil bersenjata pun menemukan kawan-kawan Yakuba di sekitar kampung Skropo yang mencoba menyembunyikan diri karena mendengar suara tembakan. Sialnya, Sudirman (28) dan Badar (26) pun tertangkap.

“Kami disiksa disuruh merayap juga diminta untuk berteriak Papua Merdeka. Lalu kami pun selama penyekapan tidak boleh berbahasa daerah kami yaitu Buton. Kami hanya boleh berbahasa Indonesia,” kata Badar.

“Sementara kalau sesama mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Papua,”cerita Badar di ruang Cenderawasih 3 tempatnya dirawat bersama Sudirman, kepada Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw bersama Gubernur Papua, Lukas Enembe yang menjenguknya di RS Bhayangkara, Sabtu (19/9) siang.

Turut hadir Yakuba yang terkena luka tembak di bagian kepala sudah sadarkan diri. Bahkan kesehatannya pun kini berangsur membaik di dalam perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara, Kotaraja. Yakuba dirawat di ruang Cenderawasih 2.

Badar masih dalam perawatan medis, disebabkan luka di bagian punggung kanan, akibat terkena pukulan senjata serta kakinya yang luka-luka saat hendak melarikan diri. “Saat saya melarikan diri tidak menggunakan alas kaki, hingga kaki saya luka,” ujarnya.

Diungkapkan Badar, selama penculikan berlangsung mereka dua kali membangun kemah bersama-sama dengan kelompok bersenjata itu, dengan beralaskan tanah dan beratapkan terpal. “Kami diberikan makan petatas yang direbus dan dibakar. Wajah mereka hitamkan dengan arang,” ujar Sudirman alias Dirman (28). Dia mengaku mereka diculik oleh 7 orang yang membawa 6 pucuk senjata dan dilengkapi panah serta senjata tajam

Usai ditangkap, kedua buruh penebang kayu itu dibawa ke PNG melalui jalur tikus yang berada di wilayah hutan PNG. Selama penyekapan, mereka pun selalu berpindah-pindah tempat.

“Kami ada lima orang satu tim untuk menebang kayu. Dua diantaranya tukang pemotong kayu dan tiga pengangkut kayu. Saya sendiri tukang angkut kayu bersama Badar dan Muna, sementara rekan saya Kuba yang ditembak merupakan tukang pemotong kayu bersama Ika, yang berhasil meloloskan diri dengan Muna,” katanya.

Selama diculik bersama Badar, kata Sudirman, sempat bepisah dengan rekannya Badar. Hal itu dikarenakan adanya upaya dari mereka berdua yang hendak melarikan diri dari penyandraan tersebut. “Badar sempat berhasil melarikan diri, ketika kami sudah berada di pegunungan Victoria. Akan tetapi Badar kembali tertangkap, karena dia hanya berputar-putar di hutan Victoria. Sedangkan saya, ketika melarikan diri, langsung tertangkap, karena saya terpojok di sebuah jurang yang memiliki kedalaman kurang lebih 40 meter,”ujarnya.

Tidak hanya sampai di situ, di hari ke empat penyanderaan mereka, sempat mendengar helikopter tentara PNG mondar-mandir di hutan Victoria. “Saya sempat berupaya untuk melambaikan tangan dengan memegang baju. Namun helikopter tidak melihat, bahkan mereka sempat melihat dan melarang untuk melambaikan tangan,”ujarnya. Kami berdua sudah pasrah apa yang akan terjadi. “Tapi kami selalu berdoa kepada Tuhan, “ujarnya.

Lalu bagaimana peroses pembebasannya? Badar menceritakan proses pembebasannya dengan kehadiran dua orang kurir antara lain anak kepala desa yang merupakan pejabat DPR di wilayah mereka. “Di hari kesembilan akhirnya kami diserahkan ke Army PNG di daerah Skowtiau,” ujarnya.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.