Beranda Nasional Kisah Adnan Buyung Nasution dan Marahnya Soeharto

Kisah Adnan Buyung Nasution dan Marahnya Soeharto

624
0
Sebarkan
874366-12102615052010b@foto-dalam-6Jakarta, sewarga.com – Adnan Buyung Nasution (81), siapa yang tidak kenal. Sejarah hidupnya penuh dengan perjuangan perlawanan. Salah satu yang menonjol sikapnya melawan Soeharto di masa orde baru.

Kisah Buyung dan Soeharto ini dituliskan dalam sejumlah bukunya. Seperti yang dikutip detikcom, Rabu (23/9/2015) dalam buku, ‘Nasihat untuk SBY’ yang terbit 2012, Buyung menyebutkan dia mesti hengkang dari Indonesia dan hijrah ke Belanda karena adanya ancaman dari penguasa Orde Baru.

“Tahun 1987, ABN terpaksa meninggalkan Indonesia dan harus ke Belanda karena ‘ancaman’ dari pemerintah Orde Baru,” tulis di buku terbitan Kompas tersebut.

Buyung memang dikenal sebagai tokoh YLBHI yang berjuang membela si miskin dan tertindas. Tak heran kalau dia berhadapan dengan penguasa.

Di buku lainnya, “Pergulatan Tiada Henti, Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto” terbitan Aksara Karunia pada 2004, pengacara senior yang ini bercerita bahwa dia pernah menemui Presiden Soeharto dan menyampaikan gagasan tentang pemberantasan korupsi.

Dalam pertemuan itu, Buyung ditemani Harjono Tjitrosoebeno, Erie Sudewo, Fuad Hassan, dan Reen Moeliono. Sementara Soeharto sebagai presiden didampingi lima orang jenderal.

Di kesempatan itu, Buyung menyerahkan dokumen tertulis. Buyung dan teman-temannya ingin Orde Baru dibersihkan dari praktik korupsi serta menyeret siapapun, termasuk petinggi ABRI yang korupsi ke pengadilan.

Setelah Buyung mengucapkan itu, Soeharto beranjak pergi. Penguasa 32 tahun itu tak mau lagi mendengar omongan Buyung. Tapi tak lama muncul pemberitaan di koran yang judulnya, ‘Kalau Bukan Buyung Sudah Saya Tempeleng’.

“Soeharto marah betul kepada saya,” kata Buyung seperti tertuang dalam halaman 191 buku itu.

Buyung pada masa era Orla turut menumbangkan Soekarno lewat Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia dan terlibat melahirkan pemerintah penggantinya di bawah Soeharto. Namun meski demikian, Buyung tetap kritis pada Orba. Buyung mengkritisi Orba terutama dalam mewujudkan keadilan bagi rakyat kecil. Itulah yang kemudian mendasarinya melahirkan LBH dan YLBHI pada tahun 1970.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.