Beranda Ekonomi Pertamina Dipaksa Berhemat US$130 Juta dalam 4 Bulan

Pertamina Dipaksa Berhemat US$130 Juta dalam 4 Bulan

74
0
Sebarkan

20150417_053703_harianterbit_wianda_pusponegoroJakarta, sewarga.com – Produsen dan distributor bahan bakar minyak pelat merah, PT Pertamina (Persero) berupaya menghemat anggaran sebesar US$130,9 juta dalam 30 hari ke depan. Hal itu dilakukan untuk mencapai target efisiensi tahun ini senilai US$500,42 juta.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengatakan perseroan saat ini tengah mengusahakan berbagai cara untuk bisa mencapai target efisiensi tersebut. Dengan realisasi penghematan hampir 73 persen hingga Agustus, Ia optimistis target efisiensi Pertamina tercapai di akhir tahun.

“Sampai akhir Agustus lalu kami sudah melakukan efisiensi hingga US$369,52 juta,” ujarnya di kantor Pertamina, Jakarta, Jumat (25/9).

Wianda merinci beberapa cara yang dilakukan manajemen untuk mengoptimalkan penghematan anggaran, yakni meliputi sentralisasi pengadaan barang dan jasa (procurement), perubahan proses pengadaan minyak mentah dan produk bahan bakar, pembenahan tata kelola arus minyak, optimalisasi aset penunjang usaha sert amemperbaiki manajemen arus kas perusahaan.

“Untuk sentralisasi procurement kami sudah bisa melakukan efisiensi hingga US$87,93 juta dari target US$90 juta,” tuturnya.

Untuk perubahan proses pengadaan minyak mentah dan produk bahan bakar, Wianda mengatakan telah melakukan efisiensi hingga US$85,9 juta dari target senilai US$110 juta. Ia menilai terdapat perbaikan setelah adanya program ini.

“Perubahan proses pengadaan crude digunakan. Karena lewat Integrated Supply Chain (ISC) lewat, maka pelaku tender lebih bervariasi,” jelasnya.

Dari sisi pembenahan tata kelola arus minyak, Wianda mengatakan Pertamina berhasil menghemat US$174,17 juta dari target US$200 juta dalam setahun.

“Ada inspeksi secara intensif. Kita juga punya program penggandaan segel untuk kapal yang di kilang. Hal ini untuk melakukan pencegahan peningkatan kerugian tetap di bawah 0,2 persen,” jelasnya.

Wianda menambahkan, dari segi optimalisasi aset penunjang usaha, perseroan menemui selisih yang cukup besar. Pasalnya, dari target efisiensi senilai US$80 juta, manajemen baru bisa berhemat US$6 juta saja.

“Kami sedang melakukan mapping (pemetaan) aset, kemudian kita valuasi nilainya. Lalu kita lihat lokasi yang cocok untuk dibangun infra agar bisa berguna,” katanya.

Dia mengungkapkan Pertamina tengah melakukan renegosiasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pembayaran pajak yang dibebankan kepada perseroan. Pasalnya, Pertamina diganjar pajak migas yang cukup besar.

“Kami juga melakukan renegosiasi dengan Pemprov DKI. Pajak kami besar karena kami kena migas, padahal tidak semua aset itu migas. Kami sedang negosiasi bagaimana yang bukan migas dibedakan sebagai aset non-migas,” tuturnya.

Adapun dari sisi corporate cash management, Wianda menuturkan hingga saat ini perseroan telah melakukan efisiensi senilai US$15,52 juta dari target sebesar US$18,34 juta. Terkait hal ini, Pertamina meminta ketegasan pemerintah terkait evaluasi harga BBM untuk menghindari kerugian lebih lanjut.

“Harga keekonomian untuk yang terakhir saya belum tahu. Memang lebih tinggi dari harga jual. Kita ingin ada kepastian apakah harga BBM akan dievaluasi secara bulanan atau tiga bulanan. Soalnya kerugian Januari sampai Agustus sudah Rp 15 triliun untuk BBM penugasan, makanya kami butuh penegasan dari pemerintah,” jelasnya.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.