Beranda Nasional Wakil Ketua MPR: Belum Bergerak Banyak Presiden Sudah ‘Dibully’ habis-habisan

Wakil Ketua MPR: Belum Bergerak Banyak Presiden Sudah ‘Dibully’ habis-habisan

83
0
Sebarkan
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo memberi pidato laporan pertanggungjawaban lembaga-lembaga negara saat Sidang Paripurna MPR dalam rangka Sidang Tahunan MPR 2015 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015).
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo memberi pidato laporan pertanggungjawaban lembaga-lembaga negara saat Sidang Paripurna MPR dalam rangka Sidang Tahunan MPR 2015 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

Jakarta, sewarga.com – Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengatakan, Presiden Joko Widodo perlu didukung dalam upayanya memperbaiki kondisi perekonomian saat ini.

“Belum bergerak banyak Presiden sudah ‘dibully’ habis-habisan. Jangan digangguin dulu, biarkan Presiden melakukan upaya-upayanya. Kita rakyat harus memperkuat Presiden kita dengan dukungan penuh,” kata Mahyudin dalam rilis Humas MPR RI yang diterima di Jakarta, Senin (28/9/2015), seperti dikutip Antara.

Menurut Mahyudin, bila Presiden Jokowi terus diganggu, maka berpotensi membingungkan beliau serta bisa membuat negara menjadi tidak kuat.

Politisi Partai Golkar itu juga tidak habis pikir dengan berbagai gangguan yang dilakukan pihak-pihak tertentu kepada Presiden. Padahal, kepala negara dan tim ekonominya juga sedang berupaya keras dalam mengatasinya.

Mahyudin memberi contoh rakyat Singapura yang mendukung penuh rezim pemerintahan sekarang yang dilihat otoriter dengan berbagai peraturan dan sanksi yang sangat banyak dan ketat.

“Tapi rakyat mendukung pemerintah untuk terus mengantarkan rakyat Singapura sejahtera,” katanya.

Dia mengakui bahwa lemahnya nilai tukar mata uang Indonesia terhadap dollar Amerika Serikat tidak bisa dipungkiri. Tim ekonomi Presiden juga harus betul-betul mempelajari dan memiliki penciuman yang kuat tentang penyebab menguatnya dollar AS terhadap rupiah.

“Pelajari juga dengan baik paket-paket perekonomian Presiden,” katanya.

Mahyudin juga berpendapat bahwa faktor pelemahan rupiah yang tidak bisa dibendung disebabkan oleh keluarnya dana asing dari Indonesia. Padahal, sekitar 60-70 persen dana investasi yang ditanamkan di Indonesia adalah dana asing.

Presiden, lanjutnya, harus melakukan langkah strategis jangka pendek dan panjang. Jangka pendek, Presiden harus berupaya mengembalikan dana asing masuk ke Indonesia. Sedangkan jangka panjangnya adalah merealisasikan paket-paket perekonomian Presiden.

“Tapi, kalau rupiah sampai melemah terus, tim ekonomi Presiden harus dievaluasi,” kata Mahyudin.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.