Beranda Ekonomi Hindari Krisis Energi, Menteri ESDM Usung 9 Program Strategis

Hindari Krisis Energi, Menteri ESDM Usung 9 Program Strategis

92
0
Sebarkan

020243700_1428916757-ESDM2Jakarta, sewarga.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan telah menyusun sembilan Program Strategis Nasional dalam rangka menyiasati beberapa tantangan di sektor energi dan pertambangan nasional.

Tak cuma itu, Kementerian yang dipimpin Sudirman Said tersebut berharap adanya sembilan Program Strategis Nasional dapat mempercepat rencana pembangunan kedaulatan energi yang sempat ditunda beberapa waktu lalu.

“Sembilan Program Strategis ini sendiri sudah dimasukkan ke dalam Renstra (Rencana Strategis) Kementerian. Jadi akan menjadi acuan (kinerja kedepannya),” ujar Teguh Pamudji, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (29/9).

Mengutip Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 20015-2019 yang menjadi payung hukum program tersebut, terdapat 9 agenda yang akan dilakukan edi era kepemimpinan Menteri Sudirman.

Kesembilan program tersebut meliputi:

1. Perbaikan prosentase bauran energi nasional yang dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan sehingga bisa mengurangi penggunaan energi fosil.

2. Pembudayaan konservasi energi yang dimaksudkan untuk mendorong kesadaran mengenai efisiensi dan tanggungjawab dalam hal pemanfaatan energi.

3. Melakukan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) secara agresif.

4. Peningkatan angka produksi dan lifting (produksi siap jual) minyak dan gas bumi (migas) nasional.

5. Pembangunan sarana infrastruktur migas demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi di sejumlah daerah.

6. Pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 35 ribu Megawatt (MW) yang diperlukan untuk menghindari krisis energi akibat tingginya konsumsi.

7. Pembangunan industri penunjang sektor energi sebagi modal untuk mengembangkan kapabilitas industri nasional, keahlian manusia Indonesia.

8. Merealisasikan program hilirisasi industri di sektor mineral dan batu bara sebagai amanat dari Undang-Undang No 4 Tahun 2019 tentang peningkatan nilai tambah mineral dan batubara (minerba).

9. Melakukan konsolidasi perizinan terhadap industri tambang yang juga merupakan implementasi dari UU Minerba.

Program ini, Sudirman bilang akan dilakukan menyusul kian dekatnya beberapa tantangan seperti krisis energi akibat kian besarnya ketimpangan antara jumlah produksi minyak yang terus menurun hingga pemanfaatan energi baru terbarukan yang belum tergarap maksimal.

“Kenyataanya sampai sekarang, melihat cadangan energi berbahan fosil sudah akan habis, gereget atau kemauan menemukan energi baru dan terbarukan belum kelihatan. Saya kok takut kita sudah di ambang pintu krisis energi kalau tidak segera diambil tindakan-tindakan,” kata Sudirman.

Sementara untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) hingga 2019, bauran energi untuk mengoperasikan pembangkit listik di dalam negeri diproyeksi berasal dari gas bumi sebesar 60 persen, sementara sisanya diambil dari energi batubara, energi baru terbarukan, dan bahan bakar minyak (BBM).

“Tahun 2019, target produksi gas kita harus 60 persen gas di konsumsi di dalam negeri. Kemudian kita juga mengejar produksi batubara kita di tahan di 400 juta ton dan 60 persennya dugunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri untuk perkuat rasio elektrifikasi,” ujarnya.

Sedangkan untuk rasio elektrifikasi atau tingkat tersambungnya energi listrik ke seluruh kepala keluarga di Indonesia, Sudirman menargetkan pada 2019 besaran tersebut mencapai 97 persen dari saat ini sekitar 86 persen.

“Saya juga berharap 10 tahun yang akan datang, energi yang dikonsumsi bisa 23 persen berasal dari energi baru terbarukan sambil mengurangi BBM,” tandas Sudirman.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.