Beranda Internasional Presiden Iran: Debat Bakal Capres AS Partai Republik bagai Lelucon

Presiden Iran: Debat Bakal Capres AS Partai Republik bagai Lelucon

136
0
Sebarkan
Hassan Rouhani bahkan mempertanyakan pengetahuan para bakal capres AS dari Partai Republik mengenai letak geografis Iran. (Reuters/Jewel Samad)
Hassan Rouhani bahkan mempertanyakan pengetahuan para bakal capres AS dari Partai Republik mengenai letak geografis Iran. (Reuters/Jewel Samad)

Jakarta, sewarga.com – Pertarungan para kandidat calon presiden Amerika Serikat, terutama dari Partai Republik, selalu menjadi perhatian dunia. Tak terkecuali Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang mengaku menganggap debat para bakal capres tersebut bagai acara hiburan.

“Terkadang, ketika saya memiliki waktu untuk menonton (debat) disiarkan langsung, saya akan menonton. Beberapa cukup bisa ditertawakan. Hal yang mereka bicarakan sangat aneh,” ujar Rouhani dalam bincang-bincang bersama CNN.

Rouhani bahkan mempertanyakan pengetahuan para bakal capres. Menurutnya, beberapa kandidat bahkan mungkin tidak mengetahui letak ibu kota Iran, Teheran.

“Beberapa dari mereka bahkan tidak akan tahu bagaimana posisi Teheran dalam Iran. Beberapa tidak akan tahu di mana Iran secara geografis, tidak bisa membedakan mana ibu kota dan bukan. Apa yang mereka bicarakan sangat jauh dari kebenaran,” katanya.

Tak hanya Rouhani, masyarakat Iran pun menganggap debat tersebut sebagai hiburan.

“Jadi, warga Iran melihat itu sebagai bentuk hiburan, jika mau, dan menganggapnya sangat mudah ditertawakan,” kata Rouhani.

Namun, Rouhani mengingatkan bahwa siapapun presiden terpilih dalam pemilu tahun depan, harus memahami bahwa kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran juga melibatkan negara lain.

“Siapapun pemerintah yang menggantikan pemerintah sekarang harus mengacu pada komitmen pemerintah sebelumnya. Jika tidak, pemerintahan tersebut dan keseluruhan negara akan kehilangan kepercayaan internasional,” ucap Rouhani.

Di AS sendiri, gelombang baru Islamofobia kembali menerjang lantaran pernyataan-pernyataan kontroversial dari dua kandidat calon presiden Partai Republik, Donald Trump dan Ben Carson.

Pada Minggu (20/9), Carson mengatakan bahwa seorang Muslim seharusnya dilarang ikut berlaga dalam bursa capres. Dalam kampanyenya, ia berkata tidak akan mendukung maupun menolak jika ada seorang Muslim mengajukan diri menjadi presiden.

Namun tak berapa lama, Carson mengatakan bahwa ia terbuka bagi kandidat Muslim yang ingin melawan Islam radikal.

Pernyataan Carson tersebut juga dinilai membuat suasana kian keruh setelah Trump tak mengoreksi pernyataan salah satu pendukungnya yang menyatakan bahwa Presiden AS, Barack Obama, adalah seorang Muslim.

Trump akhirnya memberikan klarifikasi bahwa ia tidak berkewajiban memperbaiki pernyataan anggota audiensi.

Banyak umat Muslim AS mengaku takut pernyataan-pernyataan tersebut dijadikan alat untuk melicinkan langkah Trump menuju kursi capres.

Komentar tersebut dilontarkan setelah seorang bocah Muslim berusia 14 tahun, Ahmed Mohamed, ditahan dengan borgol membelenggu tangannya lantaran membawa jam kreasi sendiri. Gurunya mengira Mohamed membawa bom.

Di Islamic Institute of Orange County, kompleks masjid dan sekolah di Anaheim di California, ketegangan mulai memuncak sejak peringatan 14 tahun tragedi 9/11 tahun ini.

Sekelompok pria kulit putih meneriaki para ibu dan anaknya yang baru saja tiba di pusat keagamaan tersebut dan menyebut mereka adalah pengecut yang seharusnya tidak tinggal di Amerika.

Mayoritas umat Muslim di AS yang mencapai angka 2,8 juta jiwa menganggap ketegangan tersebut dapat bertambah parah ketika para bakal capres berkampanye dengan nada menyinggung nilai-nilai Islam.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.