Beranda Ekonomi Proyek Kereta Cepat Ajang Pembuktian Investasi China

Proyek Kereta Cepat Ajang Pembuktian Investasi China

83
0
Sebarkan
Pengunjung mengamati miniatur kereta cepat dalam Pameran Kereta Cepat Dari Tiongkok di Jakarta, Kamis (13/8). (Antara Foto/Rival Awal Lingga)
Pengunjung mengamati miniatur kereta cepat dalam Pameran Kereta Cepat Dari Tiongkok di Jakarta, Kamis (13/8). (Antara Foto/Rival Awal Lingga)

Jakarta, sewarga.com – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menganggap kemenangan China pada tender proyek kereta cepat akan menjadi ajang pembuktian bagi pemodal Negeri Tirai Bambu bahwa tak selamanya komitmen investasi mereka hanya omong kosong.

Azhar Lubis, Deputi bidang Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM  menilai keseriusan pemodal Negeri Panda membangun infrastruktur kereta cepat di Indonesia sudah terlihat ketika China ikut serta dalam perebutan proyek itu melawan Jepang. Dengan mengikuti tender itu, jelas Azhar, artinya China sudah mempersiapkan segalanya dengan apik.

“Kita ingin berprasangka baik saja kalau proyek kereta cepat itu bakal jadi. Mereka ikut beauty contest itu, berarti kan sudah siap dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan,” jelas Azhar di Jakarta, Kamis (1/10).

Menurutnya, realisasi investasi China di Indonesia selama ini bukan menjadi faktor yang menentukan kemenangan China pada tender proyek kereta cepat. Pasalnya, jika melihat sejarahnya, rasio realisasi investasi China terbilang rendah dibandingkan dengan negara lainnya.

BKPM mencatat selama periode 2005 hingga 2014, China hanya merealisasikan investasi sebesar US$1,8 miliar atau hanya 7 persen dari total komitmen US$24,27 miliar. Angka ini lebih besar dibandingkan realisasi investasi rivalnya, Jepang, yang sebanyak US$ 16,6 miliar atau sebesar 62 persen dari minat US$26,61 miliar pada periode yang sama.

“Tapi kondisi ini mulai membaik, buktinya sudah mulai banyak realisasi investasi China dalam beberapa waktu terakhir. Smelter nikel di Morowali contohnya, kini sedang berjalan,” tutur Azhar.

Namun, statistik investasi BKPM justru mencatat sebaliknya. Realisasi investasi China semester I tahun ini sebesar US$160,27 juta, turun 30,65 persen jika dibandingkan dengan realisasi paruh pertama tahun lalu yang mencapai US$ 231,12 juta.

Setelah menuai kontroversi, proyek kereta cepat Jakarta – Bandung akhirnya tetap dilanjutkan dengan China sebagai pemenang tender tersebut. Pemerintah beralasan, tawaran China lebih menjanjikan karena tak meminta jaminan terkait pembiayan dari pemerintah dan skemanya sesuai dengan keinginan pemerintah yaitu Business to Business (B-to-B).

Nantinya, proyek senilai US$ 5,5 miliar ini akan dikerjakan China Railway Corporation (CRC) bersama empat konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Jasa Marga, PT Wijaya Karya, PT Perkebunan Nasional VII, dan PT Kereta Api Indonesia.

“Yang sudah ada keputusan ada lah KC (kereta cepat) Jakarta-Bandung akan dibangun dengan skema B2B (Business to Business) tanpa uang APBN dan tanpa jaminan pemerintah,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Sofyan Djalil melalui pesan singkat, Jumat (2/10).

sumber: Berbagai sumber


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.