Beranda Nasional Lawang Sewu, Saksi Bisu Kacaunya Birokrasi

Lawang Sewu, Saksi Bisu Kacaunya Birokrasi

475
0
Sebarkan
Lawang Sewu, Semarang Jawa Tengah
Lawang Sewu, Semarang Jawa Tengah

Semarang, sewarga.com – Dianggap tidak membayar pajak retribusi, bangunan cagar bersejarah Lawang Sewu terancam disegel oleh Pemkot Semarang.

Pernyataan ini disampaikan Kepala Bidang Pajak Daerah Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) kota Semarang Agus Wuryanto setelah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di tempat wisata Lawang Sewu Semarang pada Kamis (1/10) kemarin.

“Dari hasil sidak dan evaluasi, Pajak dari retribusi tiket yang belum dibayar ada sekitar 4 tahun”, ujar Agus

Agus menambahkan jika pihaknya akan segera melayangkan surat kepada PT.Kereta Api selaku pengelola Lawang Sewu.

“Surat akan segera kami layangkan ke PT.KA, jika masih belum diselesaikan, ya kami bisa segel”, tambah Agus.

Sementara itu, Kepala Museum PT. Kereta Api Sapto Hartoyo ketika dikonfirmasi justru mempertanyakan pajak retribusi yang dituntut oleh Pemkot Semarang. Terlebih, kenapa baru tahun ini dipermasalahkan.

“Kami bingung, pajak retribusi yang mana. Kalau dari tiket masuk, itu sudah kami hitungkan ke pendapatan perusahaan dan pajaknya kami laporkan dan bayarkan setiap tahun”, ujar Sapto

Sapto pun menegaskan jika mulai tahun 2011 sejak ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional, Lawang Sewu menjadi aset kebanggaan Kota Semarang juga sebagai destinasi wisata.

“Kami mandiri, tanpa bantuan Pemerintah. Pendapatan tiket masuk kami gunakan untuk pemeliharaan Lawang Sewu”, tambah Sapto.

Pihak PT. Kereta Api dalam waktu dekat akan segera mempertanyakan masalah ini ke Pemkot Semarang.

Lawang Sewu, gedung ‘seribu’ pintu, pernah menjadi ikon gedung berhantu. Tayangan uji nyali dan kemunculan sosok seperti hantu perempuan yang menyebar di jejaring sosial, cukup untuk menciptakan kesan menakutkan.

Tapi siapa mengira, gedung yang dibangun pada 1904 dan selesai pada 1907 ini sebetulnya bagian dari sejarah kereta api di Indonesia. Inilah gedung yang dibangun oleh perusahaan swasta Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yang pertama kali mengoperasikan kereta api di Hindia Belanda, untuk dijadikan kantornya.

CNN Indonesia menyambangi gedung itu pada Selasa (16/6). Di halaman depannya ada sebuah lokomotif tua. Gedung ini memang sudah bersalin rupa menjadi museum kereta api.

Di gerbang masuk ada pos pembelian tiket masuk. Harganya Rp 10 ribu per orang. Kalau ingin ditemani pemandu, tambahkan Rp 30 ribu.

Spot pertama yang diperlihatkan Arif pagi itu adalah mozaik kaca patri warna-warni yang menjadi daya tarik Lawang Sewu saat ini. Kaca ini memiliki beberapa ornamen yang punya cerita masing-masing. Di antaranya soal Semarang dan Batavia, dan gambar roda terbang yang pernah dijadikan lambang PT Kereta Api.

Dari sana, kami bergerak menuju ruang museum sejarah kereta api. Di sini dipamerkan berbagai artefak, foto, duplikat lokomotif kuno, dan kisah mengenai perkeretaapian di Indonesia.

Di seberang gedung museum ini ada museum khusus yang menceritakan riwayat Lawang Sewu serta proses restorasi yang dilakukan oleh PT KAI sejak 2011. “Dulu bangunan ini rusak di sana-sini,” kata Arif.

Spot berikutnya adalah bangunan pompa air di dekat gerbang masuk. Menurut catatan yang ada di bangunan itu, pompa air itu menyedot air dari sumur yang kedalamannya konon mencapai 1.000 meter.

Alasannya Belanda menggali sampai sedalam itu karena air tanah di Semarang memang kurang bagus pada kedalaman rendah. Sebab kota ini berada tepat di tepi laut.

Spot terakhir adalah bangunan kosong yang memiliki area bawah tanah. Di area inilah, kata Arif, dulu pernah dijadikan syuting uji nyali yang bikin heboh jejaring maya.

Tapi area bawah tanah ini tertutup untuk umum karena restorasinya masih berlangsung. Kami masih bisa melihat pintu masuk ke ruang bawah tanah, melalui sebuah jendela di bangunan itu. Aroma lembab dan dingin langsung terasa saat berada dekat pintu masuk itu. Selebihnya, Lawang Sewu sudah kehilangan ‘sengat’ menakutkannya.

sumber: Berbagai sumber


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.