Beranda Internasional Penemu Obat Malaria Dapat Nobel

Penemu Obat Malaria Dapat Nobel

95
0
Sebarkan
ilustrasi: cholab.or.kr
ilustrasi: cholab.or.kr

Stockholm, sewarga.com – Tiga ilmuwan dari Irlandia, Jepang dan Tiongkok memenangi penghargaan Nobel bidang kedokteran karena menemukan obat-obatan untuk malaria dan penyaki akibat parasit lainnya yang menimpa ratusan juta orang tiap tahun.

Para juri Nobel di Stockholm, Swedia, memberikan penghargaan prestisius ini pada William Campbell (Irlandia), Satoshi Omura (Jepang) dan Tu Youyou – warga Tiongkok pertama yang mendapat Nobel bidang kedokteran.

Campbell dan Omura dipilih karena menemukan avermectin, zat derivatif yang telah membantu mengurangi perluasan dampak penyakit river blindness (infeksi kulit dan mata karena cacing filarial) dan lymphatic filariasis, dua penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit dan telah menimpa jutaan orang di Afrika dan Asia.

Sedangkan Tu menemukan artemisinin, obat yang secara signiifikan membantu mengurangi tingkat kematian pasien malaria.

“Dua penemuan ini telah memberikan cara baru yang ampuh bagi umat manusia untuk memerangi penyakit melumpuhkan dan menimpa ratusan juta orang tiap tahun,” bunyi pernyataan komite Nobel.

“Dampaknya dalam hal peningkatan kesehatan manusia dan penurunan penderitaan sungguh tak terkira.”

River blindness adalah penyakit mata dan kulit yang bisa mengakibatkan kebutaan. Sekitar 90% penyakit ini terjadi di Afrika, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara itu lymphatic filariasis bisa membuat pembengkakan anggota badan dan genital atauelephantiasis (di Indonesia acap disebut penyakit kaki gajah) dan utamanya mengancam Afrika dan Asia. Menurut WHO, 120 juta orang terinfeksi penyakit ini.

Campbell, yang terlahir tahun 1930, adalah peneliti di Drew University di Madison, New Jersey, AS. Omura, 80, adalah profesor di Kitasato University di Jepang, berasal dari Yamanashi. Tu, 84, adalah profesor kepala di China Academy of Traditional Chinese Medicine.

“Saya tak tahu apakah layak mendapat penghargaan ini. Saya telah belajar banyak tentang mikroorganisme dan bergantung pada mereka, jadi saya berniat mempersembahkan penghargaan ini pada mikroorganisme,” kata Omura seperti dikutip televisi Jepang NHK.

Omura mengisolasi strain baru bakteri Streptomyces dan membiakkannya sehingga bisa dianalisa dampaknya pada bakteri jahat, kata komite Nobel.

Campbell menunjukkan bahwa salah satu bakteri yang diisolasi itu “sangat efisien” dalam memerangi parasit pada binatang. Zat bioaktif dimurnikan dan dimodifikasi menjadi adonan yang bisa secara efektif mematikan larva parasit, sehingga membantu ditemukannnya obat baru.

Tu berpaling ke obat-obatan herbal untuk menemukan zat anti-malaria yaitu artemisinin, dan terbukti sangat efektif memerangi penyakit yang sudah muncul sejak 1960an itu.

Terakhir kali warga Tiongkok mendapat Nobel terjadi pada 2012, ketika Mo Yan memenangi penghargaan bidang sastra. Namun baru kali ini penghargaan untuk bidang ilmiah diberikan pada seorang ilmuwan Tiongkok yang bekerja di negerinya sendiri.

Penghargaan bidang kedokteran ini adalah yang pertama diumumkan. Pemenang untuk kategori fisika, kimia dan perdamaian akan disampaikan beberapa hari lagi. Sedangkan untuk bidang ekonomi, akan diumumkan Senin pekan depan, sementara bidang sastra belum ditentukan waktunya.

Tiga pemenang di atas akan membagi hadiah total 8 juta Kronor (Rp 13,88 miliar), separuhnya dibagi dua antara Campbell dan Omura, dan setengahnya lagi menjadi hak Tu.

Setiap pemenang juga akan mendapat gelar diploma dan medali emas pada acara pemberian hadiah 10 Desember, hari peringatan meninggalnya pendiri yayasan Alfred Nobel.

sumber: The Associated Press


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.