Beranda Hiburan Mengadu Gengsi Rekaman di Negeri Orang

Mengadu Gengsi Rekaman di Negeri Orang

210
0
Sebarkan
Rekaman di luar negeri memang terdengar mewah. Tapi perlukah mengejar gengsi rekaman hingga ke negeri orang? (Pixabay/AlexanderStein)
Rekaman di luar negeri memang terdengar mewah. Tapi perlukah mengejar gengsi rekaman hingga ke negeri orang? (Pixabay/AlexanderStein)

Jakarta, sewarga.com – Bisa besar di negeri orang merupakan impian bagi semua musisi di Indonesia. Luasnya pasar menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan mereka. Anggun dan Agnes Monica bukanlah satu-satunya musisi yang pernah terbang ke luar negeri.

Tercatat, banyak juga musisi yang ke luar negeri dengan maksud menjajal studio rekaman di sana. Mereka antara lain /rif, J-Rock, Gigi, Gita Gutawa, Addie MS, Polkawars sampai Indische Party.

Tahun ini, /rif dan Indische Party ramai diberitakan baru saja menginjakkan kaki di studio rekaman Abbey Road, Inggris. Mereka menjadi berita karena studio Abbey Road adalah studio yang sempat merekam album musik milik band legendaris The Beatles.

Sepintas, berita musisi rekaman di luar negeri memang terdengar mewah. Tapi jika direnungkan lebih dalam, perlukah mengejar gengsi rekaman hingga ke negeri orang?

Sah-sah Saja

Menjawab pertanyaan ini, CNN Indonesia sempat berbincang dengan pemain bass band White Shoes and the Couples Company, Ricky Surya Virgana.

Bagi pria alumnus Institut Kesenian Jakarta ini, rekaman di luar negeri sah-sah saja, asal memiliki alasan yang tepat.

“Jika setelah rekaman karyanya diedarkan di luar negeri, ini jadi hal yang penting. Karena untuk mengedarkan karya di sana butuh teknis yang mumpuni. Tapi kalau hanya untuk diedarkan di Indonesia atau hasilnya sama saja seperti rekaman di Indonesia, buat apa?” kata Ricky saat dihubungi pada Selasa (6/10).

Bukan bermaksud menjelekkan kualitas rekaman di dalam negeri, menurut Ricky kualitas rekaman di luar negeri memang berbeda. Hal ini bisa diukur dari soal teknis dan sumber daya manusianya (SDM).

Ricky tidak asal membandingkan, karena bersama White Shoes and the Couples Company ia pernah mencicipi rekaman musik di Capricorn Studio, Mauritius Island, Afrika. Ketika itu materi yang direkam memang untuk diedarkan di radio sana.

“Kalau di luar negeri, alat-alat rekamannya pasti yang terbaru, karena memang dengan mudah bisa mendapatkannya. Mengenai SDM, di sana mereka merekam lagu dengan hitungan matematika, dihitung segala sebab dan akibatnya. Tidak hanya berdasarkan insting, seperti yang masih banyak dilakukan oleh para teknisi di sini,” ujar Ricky.

Tidak Pasti Bagus

Mengenai kualitas, tidak pernah ada hitungan matematika yang pasti untuk menghasilkan karya musik yang baik. Bagi Ricky, orang yang bertanggung jawab atas hasil karya musik yang baik adalah produser dan musisinya sendiri.

“Semua kembali ke produser dan musisinya. Mereka membawa referensi seperti apa? Inginnyasound seperti apa? Kemampuan bermusik mereka sampai di mana? Hal-hal itu yang bisa menghasilkan rekaman yang baik,” kata Ricky.

Jika sudah memiliki dasar bermusik yang baik, urusan teknis studio rekaman pun akan ikut mendukung. Salah satu yang ditekankan Ricky adalah kualitas mikrofon dalam sebuah studio rekaman.

Ricky teringat, ketika itu penabuh drum White Shoes and the Couples Company, John Navid, pernah kesulitan mendapatkan hasil rekaman suara drum di salah satu studio di Indonesia. Karena ketika didengarkan, suara drum malah berbeda dengan yang direkam.

Hampir enam jam, bersama teknisi, mereka mencari letak permasalahannya. Ternyata titik permasalahannya ada di mikrofon, yang tidak mengantarkan suara dengan baik.

“Sebelum masuk studio rekaman, pastikan kualitas mikrofonnya baik. Karena album musik kan untuk keperluan promosi musisinya juga, jadi harus maksimal lah,” kata Ricky.

Pengalaman Mahal

Dilakukan di luar atau di dalam negeri, sesi rekaman sangatlah menguras kantong para musisi.

Ricky memperkirakan, butuh dana sekitar Rp60-an juta bagi sebuah band indie untuk merekam satu album musik dengan sepuluh lagu di Indonesia. Angka itu tergolong kecil, jika dibandingkan dengan dana rekaman band mainstream yang sekitar Rp200-an juta.

Dana rekaman tersebut sudah termasuk sewa studio per enam jam hingga sewa musisi tambahan seperti string section.

“Tidak heran kan kalau banyak musisi yang marah-marah kalau albumnya dibajak. Hahaha,” ujar Ricky.

Ditanya mengenai kisaran dana rekaman di luar negeri, Ricky tidak mengetahui dengan pasti. Tapi kalau pun sudah membayar mahal, para musisi juga akan membawa pulang kenangan yang tidak ternilai harganya.

“Apalagi seperti band yang rekaman di Abbey Road. Kapan lagi mereka bisa ke sana dan bekerja sama dengan teknisi luar negeri? Jadi jangan sampai sudah jauh-jauh rekaman di luar negeri tapi tidak membawa hasil yang membanggakan, karena di sini juga banyak studo rekaman yang hampir sama bagusnya,” kata Ricky menutup pembicaraan.

sumber: Berbagai sumber


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.