Beranda Ekonomi Kurangi Cukai Rokok, “Baseline” Penerimaan Pajak APBN 2016 Terpangkas Rp 19,2 T

Kurangi Cukai Rokok, “Baseline” Penerimaan Pajak APBN 2016 Terpangkas Rp 19,2 T

91
0
Sebarkan
Ilustrasi Rokok (Istimewa)
Ilustrasi Rokok (Istimewa)

Jakarta, sewarga.com – Penerimaan perpajakan dalam postur sementara (baseline) Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 terpangkas Rp 19,2 triliun menjadi Rp 1.546,6 triliun dari asumsi sebelumnya Rp 1.565,8 triliun. Hal ini sejalan langkah pemerintah mengurangi ketergantungan penerimaan dari cukai hasil tembakau (rokok) sekaligus memperluas objek cukai termasuk minuman berkarbonasi.

Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro menyatakan dari pemangkasan tersebut, yang terbesar adalah pendapatan bea dan cukai Rp 10,8 triliun dari Rp 197,3 triliun menjadi Rp 186,5 triliun. Kemudian pajak penghasilan (PPh) migas terpangkas Rp 7,1 triliun dari Rp 48,5 triliun menjadi Rp 41,4 triliun.

“Penerimaan perpajakan terpangkas dalam postur sementara APBN 2016, perinciannya penerimaan pajak menjadi Rp 1.360,2 triliun terdiri dari PPh migas Rp 41,4 triliun, PPh non migas Rp 715,8 triliun, pajak pertambahan nilai (PPN) Rp 571,7 triliun, pajak bumi dan bangunan (PBB) Rp 19,4 triliun, pajak lainnya Rp 11,8 triliun,” katanya di Jakarta, Kamis malam (15/10).

Untuk cukai terpangkas Rp 9,1 triliun dari Rp 155,5 triliun menjadi Rp 146,4 triliun yang terdiri dari cukai hasil tembakau Rp 139,81 triliun, cukai methil alkohol Rp 17 miliar, dan cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA‎) Rp 6,45 triliun.

Adapun kepabean terpangkas Rp 1,7 triliun dari Rp 41,8 triliun menjadi Rp 40,1 triliun. Perinciannya, bea masuk (BM) terpangkas Rp 1,7 triliun dari Rp 38,9 triliun menjadi Rp 37,2 triliun dan bea keluar tetap sebesar Rp 2,9 triliun. “Target cukai turun karena perlambatan ekonomi turut mempengaruhi produksi rokok. Kami juga ingin kenaikan tarif cukai tahun depan tidak memberatkan industri rokok dan tembakau sehingga konsekuensinya penerimaan dipangkas,” kata Bambang.

Dirjen Bea dan Cukai Heru menyatakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau tahun depan dilakukan proporsional dan tidak memberatkan pelaku industri sigaret kretek tangan (SKT) khususnya.

“Untuk BM, yang akan kami lakukan meningkatkan pelayanan secara otomasi, menambah komoditas yang mendapat bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Tujuannya, mendorong investasi dan mengintensifkan program kepatuhan dan partnership,” kata Heru.

sumber: Beritasatu.com


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.