Beranda Headline Apa jadinya jika sistem kasta diterapkan umum di Indonesia abad-21

Apa jadinya jika sistem kasta diterapkan umum di Indonesia abad-21

112
3
Sebarkan

 

Nusantara adalah wilayah yang cakupannya lebih luas dari pada Indonesia hari ini. hal ini dapat di jadikan argumentasi apabila kita mengacu kepada zaman ke-emasan kerajaan majapahit. Besarnya kerajaan dan wilayah kekuasaannya pun akhirnya berpengaruh pada sistem sosial masyarakat kerajaan tersebut.

Sebut saja suku jawa, tidak bermaksud untuk menulis sesuatu yang sifatnya jawa centris, ini hanyalah pintu pembuka untuk dialog yang selanjutnya.

Kembali ke alur cerita, kebesaran kerajaan-kerajaan yang ada di jawa berbanding lurus dengan sistem sosial masyarakat suku jawa di tataran paling bawah. Apalagi pada zaman kerajaan tersebut, agama yang dianut memungkinkan untuk seseorang menduduki posisi tertinggi atau terendah.

Seperti apa yang disampaikan oleh Kyai Ng. Agus Sunyoto dalam ceramah-ceramah ilmiahnya berkaitan dengan sejarah. Bahwa masyarakat jawa pada saat itu menganut sistem kasta, yang dimana sistem kasta ini mengolongan manusia dengan derajat yang tertinggi adalah yang paling jauh dari harta duniawi. namun sistem kasta yang ada di wilayah nusantara berbeda dengan yang ada di india. Kalau di india hanya menggunakan empat sistem kasta, brahmana, ksatria,  waisya, dan sudra, maka berbeda dengan yang ada dinusantara. Nusantara menganut tujuh sistem kasta.

Masih kyai Ng, agus sunyoto menjelaskan, bahwa sistem kasta yang ada dinusantara menambahkan tiga golongan lagi, yaitu candala, maleca, dan tuca. Penambahan kasta ini akibat dari kompleks nya karakter masyarakat nusantara pada waktu itu yang tentu saja juga akibat dari kebijakan peraturan raja, para mahamantri dan dharmadyaksa nya.

Kasta pertama, brahmana, adalah golongan orang yang menjadi pendeta atau ahli agama, yang tentu saja sudah tidak memperdulikan lagi harta duniawi. Yang mereka fikirkan hanyalah menanam dharma (kebenaran). Dan yang menjadi menarik adalah tidak boleh ada satu golonganpun yang berani membicarakan agama selain kaum brahmana. Karena apabila itu dilakukan maka itu merupakan pelanggaran kepada aturan agama dan kerajaan.

Kasta kedua, ksatria, adalah kelompok orang yang mengabdikan diri kepada kerajaan/Negara. Mereka hanya berfikir bagaimana meng-khitbahkan dirinya untuk berbakti pada tanah tempat dia dilahirkan. Nikmat dunia bukan merupakan orientasi utama dalam menjalakan tugasnya, namun kesetiaan dan tanggung jawablah yang merupakan tujuan ultim mereka di dunia. itu sebabnya sering kali ksatria di anggap sebagai titisan para dewa akibat dari dedikasinya untuk negara.

Kasta ketiga, waisya, adalah para petani yang sudah memiliki tanah dan pekarangan sendiri. Kelompok ini menjalankan dunianya sebagai rakyat biasa dan bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, namun kelompok ini tidak merugikan orang lain. Secara lebih mudah dipahaminya adalah, mereka bekerja dan memasrahkan hasilnya kepada tuhan untuk penghidupannya setiap hari.

Kasta ke-empat, sudra, adalah golongan orang biasa yang mahir dalam berdagang. memanfaatkan kemampuan dan potensi wilayahnya sebagai sumber penghidupannya. Golongan ini bekerja namun membutuhkan interaksi dengan manusia, karena sumber penghidupannya adalah uang lebih dari hasil berdagang tersebut. sehingga disini ada potensi pihak dirugikan atau memonopoli perdagangan.

Kasta ke-lima, candala, adalah kelompok orang yang bertugas sebagai jagal atau algojo dalam lingkungan istana. Kelompok ini mempunyai spesifikasi sebagai pembunuh benda-benda hidup. Sehingga dengan potensinya berbuat demikian membuat kastanya berada di tingkatan rendah.

Kasta ke-enam, maleca, adalah kelompok atau golongan orang-orang asing (atas angin) yang mencari sumber penghidupan di nusantara, berdagang atau hal lain. Pada waktu itu masyarakat nusantara memiliki harga diri yang sangat tinggi, mereka beranggapan sebagai titisan para dewa, sehingga mereka dilahirkan sebagai ras yang terbaik, akibatnya adalah manusia diluar ras mereka adalah mahluk rendahan dalam pandangan mereka. itu sebabnya kenapa orang asing menjadi rendah kastanya dimata mereka.

Kasta terakhir yang ketujuh, tuca, adalah kelompok orang yang hidupnya merugikan orang lain, menjadi perampok, pencuri, pembunuh dan kelakuan buruk lainnya. Itu sebabnya kenapa mereka menjadi kasta yang terendah dan tidak memiliki kehormatan apapun.

Pertanyaannya sekarang, kenapa saya harus capek-capek menulis itu semua?

Pertama, bagi saya dalam era globalisasi sekarang ini memungkinkan terjadinya ideo scape dan seseorang bisa menjadi siapapun. Apa ideo scape itu? Ideo scape adalah posisi dimana ideology sudah tidak lagi mempunyai batas Negara, kelompok, atau agama. Masyarakat bisa mempelajari dan meng-akses kapan saja seputar ideology yang di inginkan untuk ketahui. Bahkan untuk urusan yang paling privat-pun semacam agama sudah tidak lagi  menjadi urusan antara pribadi dengan tuhan saja. Batas privasi inipun kadang juga masih bisa diganggu orang lain karena adanya internet yang memungkinkan itu semua terjadi. Akibatnya sekarang membedakan siapakah ulama (brahmana) yang sesungguhnya dengan orang yang hanya mengandalakan gadget sangat sulit untuk di bedakan. Tumpang tindih pemahamanpun berakibat pada segregasi antar kelompok dalam realitasnya. Dan itu sudah terbukti di Indonesia.

Kedua, masyarakat hari ini pun sudah tidak lagi memiliki -hal paling sederhana-nasionalisme kepada bangsa dan negaranya, jiwa patriotis dan ksatria sudah tidak dipandang perlu lagi untuk di kumandangkan minimal untuk diri pribadi. Seperti apa yang dikatakan oleh cak nun, “masyarkat hari ini hanya akan bangga ketika membicarakan tentang masa lalu, tapi ketika diajak untuk berfikir bersama tentang masa depan (bangsa) maka mereka hanya akan bertengkar karena mementingkan diri dan kelompoknya sendiri”.

Hal yang menjadi fatal adalah, tidak adanya rasa kesatuan sesama bangsa ini di manfaatkan oleh kepentingan asing untuk mengeruk sumber daya alam, membuat perpecahan dan menjajah indonesia. Padahal dulu asing merupakan golongan dengan tingakat kasta rendah karena mereka adalah golongan yang mengemis-ngemis minta untuk kita berikan tempat mencari penghidupan. Tapi sekarang berbalik, kita berbondong-bondong meng-imitasi  penampilan agar serupa dengan budaya mereka, kita berikan tempat untuk investasi tapi menginjak-injak harga diri kita, kita berikan mereka keleluasaan untuk mengobrak-abrik kedaulatan berpolitik kita. Hancur sudah konsep trisakti soekarno, konsepsi yang sukses di adopsi oleh kuba. Mandiri dalam ekonomi, daulat dalam politik dan bangga akan budaya sendiri.

sesuatu yang menggelitik adalah apa jadinya bila sistem kasta yang di paparkan diatas tadi diterapkan pada zaman sekarang? Jawabannya pun belum tentu baik bahkan akan sangat relative ketika tinjau dari multiaspek. Tapi minimal, masyarakat tidak akan mudah dan semaunya membicarakan konteks agama sehingga memunculkan segregasi. tidak akan mudah pula untuk tunduk dan menyerahkan harga diri pada asing karena kasta kita lebih tinggi sebagai titisan para dewata. Keteraturan sosial mungkin akan lebih tertata dari pada hari ini. dan kebanggaan akan budaya sendiri mungkin juga akan menjadi trend center di masyarakat.

Dan akhirnya, tulisan ini harus diakhiri, karena ungkapan emosi tidak akan pernah berakhir bila dilanjutkan. Para pendahulu sudah mengingatkan jangan sekali-kali melupakan sejarah, kenapa? Karena hanya itu modal kita hari ini untuk menghadapi tantangan zaman.

Pidato soekarno : 1963

“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis,
kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.”

 


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

3 Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here