Beranda Budaya Sejarah Raja Jayabhaya / Pangeran Joyoboyo

Sejarah Raja Jayabhaya / Pangeran Joyoboyo

154
0
Sebarkan

Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157.

Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Dalam sejarah, Jayabaya adalah seorang raja yang memerintah Kerajaan Kediri pada kurang lebih tahun 1.130 sampai dengan tahun 1.160 masehi.

Dia adalah seorang keturunan langsung dari Prabu Airlangga, penguasa tertinggi Kerajaan Kahuripan yang memerintah antara tahun 1.019 sampai dengan 1.042.

Kerajaan kediri (1.042 – 1222) sebelumnya merupakan pecahan dari kerajaan Kahuripan.

Sebelum meninggalkan tahta dan kemudian menjalani hidup sebagai pertapa, Airlangga membagi kerajaannya untuk dua orang putranya masing-masing Kerajaan Jenggala (Singosari) dengan Ibukotanya Kahuripan dan Kerajaan Panjalu (Kediri) dengan Ibukotanya Daha.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, melalui perang saudara antar pewaris Airlangga, Kerajaan Jenggala akhirnya takluk dan menjadi bagian dari kerajaanKediri.

Jayabhaya dalam Tradisi Jawa

pangeran jabaya

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya.

Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarbayang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam.

Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati. Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lainSerat Jayabaya MusararSerat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen.

Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa.

Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar.

Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.

Please enter your comment!
Please enter your name here