Beranda Budaya Dua Macam Kediktatoran

Dua Macam Kediktatoran

36
1
Sebarkan
Foto: Ramdani/sewarga

Dua macam kediktatoran bersimaharajalela dalam dunia filsafat dan lalu mencetuskan implikasi yang sama sekali tak sederhana terhadap realitas hidup umat manusia dalam cakupannya yang sangat luas. Dua macam kediktatoran dimaksud adalah Empirisme dan Rasionalisme. Tesis pokok Empirisme ialah manusia lahir tanpa fitrah ilmu pengetahuan dalam dirinya, dan hanya melalui lipatan-lipatan pengalaman manusia dapat dan mampu menguasai ilmu pengetahuan. Tesis utama Rasionalisme ialah manusia memiliki kapasitas-kapasitas logis untuk dapat mengidentifikasi dengan segera serta menganalisis secara tajam segala macam realitas, terutama untuk melakukan pembebasan diri dari belenggu tahayulisme dan dogmatisme.

Dalam dinamika peradaban abad XXI kini, justru telah sedemikian rupa menyeruak keharusan untuk mengoreksi secara menyeluruh kesalahan fundamental Empirisme dan Rasionalisme. Demi tercapainya maslahat dalam kehidupan umat manusia, maka mutlak diberlakukannya upaya-upaya koreksi terhadap Empirisme dan Rasionalisme.

Kediktatoran Empirisme dapat dilacak pada gagasan-gagasan filosofis David Hume, George Berkeley, dan John Locke. Penghambaan manusia di hadapan realitas-realitas kasat mata, oleh Empirisme justru malah dikukuhkan sebagai pandangan dunia (Weltanschauung) yang determinatif. Pencerapan dan pemaknaan terhadap realitas-realitas duniawi lalu bercorak reduksionistik, sebab sepenuhnya abai terhadap makna substansial indera batin manusia. Melalui Empirisme, abstraksi-abstraksi tak bermetamorfosis menjadi gagasan-gagasan filosofis baru. Itu karena, penghayatan manusia disterilisasi dari dimensi-dimensi imajinatif. Atas dasar itu semua maka hidup hanya dimengerti secara terbatas sebagai aksi-reaksi dalam konteks kehidupan di Planet Bumi semata.

Kediktatoran Rasionalisme dapat ditelusuri geneologinya ke dalam pemikiran filosofis Rene Descartes, Baruch Spinoza, dan G.W. Lebniz. Doktrin filosofis Rasionalisme meniscayakan berlangsungnya penghambaan manusia terhadap analisis kritis, yaitu tatkala sang manusia berupaya memahami makna kehidupan, hingga kemudian penghambaan tersebut digdaya membentuk ilmu pengetahuan baru. Dalam Rasionalisme, akal manusia hanya dikerahkan secara sepihak untuk memahami realitas-realitas yang terkonstruksi atau tersebar di luar spektrum diri manusia. Rasionalisme memojokkan eksistensi manusia untuk terpisah sacara kaku dengan realitas duniawi. Bahkan sejalan dengan model relasi subyek-obyek yang determinatif, maka realitas-realitas yang terkonstruksikan atau tersebarluaskan di luar diri manusia tak diberi ruang dan kesempatan untuk mengungkapkan secara otentik seluruh hakikat esensinya. Dengan Rasionalisme, manusia tak terlatih mendayagunakan intuisinya [yang meta-rasional] untuk dapat memaknai realitas-realitas sensibel maupun realitas-realitas transenden.

Implikasi filosofis dari keberadaan Empirisme dan Rasionalisme sungguh sangat serius. Dengan doktrin filosofis yang dikandungnya, Empirisme dan Rasionalisme mendorong manusia terjerembab ke dalam kubangan kelam eksistensial, hasil rancang bangun manusia sendiri. Empirisme mempedagogi manusia dengan pesimisme yang tiada tara terhadap diri sendiri, akibat terlampau determinatifnya keyakinan filosofis, bahwa jiwa manusia bukanlah sumber hakiki keterciptaan ilmu pengetahuan. Rasionalisme mempedagogi manusia dengan pesimisme terhadap segala macam ontologi yang berpendar-pendar di luar spektrum diri manusia. Manusia dipahami secara keliru, saat dimengerti sebagai subyek yang otonom. Maka, Empirisme dan Rasionalisme tak mungkin diterima secara taken for granted, tanpa dibubuhi oleh catatan-catatan sublimatif tentang manusia sebagai mahluk superlatif di alam semesta.

Secara kategoris, kita kini dapat menarik satu benang merah kesimpulan berkenaan dengan Empirisme dan Rasionalisme. Empirisme merupakan sebuah kerangka kerja filosofis tentang pengasingan manusia atas hakikat dirinya sendiri. Melalui empirisme, manusia dikondisikan untuk mengacaukan dirinya sendiri sebagai sebuah keutuhan eksistensi. Rasionalisme sebagai paradigma kehidupan justru mendedahkan manusia teronggok di alam semesta sebagai subyek ex-nihilo dari kesejatian hidup transenden yang ontologinya justru musti dicerap [atau “dipersepsi” menurut filosof Maurice Merleau-Ponty] dari dimensi-dimensi kosmik alam semesta. Bahkan, Rasionalisme menghela kesadaran manusia agar sepenuhnya berposisi sebagai variabel antagonistik pencetus malapetaka kehancuran ekosistem atas penyikapan sang manusia sebagai subyek yang jemawa serta ekosistem yang lantas terpojokkan sebagai obyek penderita belaka.

Sesungguhnya, kita masih mungkin berharap pada Empirisme dan Rasionalisme, manakala seluruh format kesadaran manusia benar-benar bersukmakan transendensi. Kelemahan pokok Empirisme terkait erat dengan makna “pengalaman” sebagai sumber terbentuknya ilmu pengetahuan. Pengalaman direduksi maknanya semata mencakup pengalaman fisik-biologis manusia dalam pergumulannya dengan sengkarut hayat di Planet Bumi.

Serangkaian pengalaman esoteristik yang transenden dinafikan dan atau dilecehkan oleh Empirisme. Kelemahan pokok Rasionalisme berkelindan dengan masalah intelek manusia yang didedahkan semata sebagai faktor tunggal yang fungsional memahami seluruh ontologi di alam semesta. Rasionalisme abai terhadap kebermaknaan intelek alam semesta yang semestinya bersenyawa [secara transenden] dengan intelek manusia.

Kelemahan-kelemahan inilah yang meniscayakan diberlakukannya upaya-upaya rehabilitasi secara total terhadap Empirisme dan Rasionalisme. Pemberlakukan Empirisme dan Rasionalisme sebagai fundemen dasar tegaknya paradigma baru kehidupan mustahil bersandar atau mengacu pada visi filosofis sekularistik yang menghablur sejak abad XVII di Eropa. Selama rehabilitasi tersebut gagal diberlakukan dengan segera, maka selama itu pula umat manusia terus-menerus diperhadapkan dengan kediktatoran Empirisme dan Rasionalisme. Lantaran telah sedemikian rupa mengoyak kesejatian eksistensi yang transenden, maka absurd manakala berharap pada Empirisme dan Rasionalisme sekularistik. Bahkan, Empirisme dan Rasionalisme sekularistik yang kering kerontang dari transendensi bakal terus mencetuskan model-model modernisme dan ide-ide kemajuan bercorak dehumanistik.

Dan apa boleh buat, penistaan manusia atas manusia lain masih akan terus berlangsung menyerupai opera sabun yang sama sekali tak menghibur.[]

Anwari WMK


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

1 Komentar

Comments are closed.