Beranda Filsafat Intelek Alam Semesta

Intelek Alam Semesta

53
1
Sebarkan
Foto: Ramdani/sewarga

Manusia dan kemanusiaan terus-menerus diidentifikasi sebagai faktor penentu keberadaan intelek. Domain kehidupan di luar spektrum manusia dan kemanusiaan dimengerti sebagai ex-nihilo intelek, yaitu wilayah tanpa intelek. Tapi sejalan dengan bangkitnya kesadaran umat manusia kini dalam kemendesakan untuk memahami realitas-realitas transenden, maka intelek dengan maknanya yang sedemikian rupa itu patut dan layak dipersoalkan secara kritis-filosofis. Telaah terhadap realitas-realitas transenden justru malah membawa kita pada satu titik kesimpulan, bahwa sesungguhnya intelek tersebar luas di alam semesta. Sekali pun manusia berkemampuan tanpa batas menguasai intelek, realitas-reaitas yang terserak di luar personalitas manusia pun memiliki intelek, atau mempertahankan keberadaannya dengan berpijak pada intelek.

Adalah filosof besar Avicenna (980-1037) yang pada sekitar seribu tahun lalu berbicara secara asertif, melalui diskurus filosofis, tentang intelek alam semesta. Dalam perspektif filosofis Avicenna, intelek alam semesta hadir sabagai konsekuensi logis dari hamparan realitas fisika yang tidak hanya terdiri dari materi. Dalam fisika, menurut Avicenna, tercakup pula keberadaan intelek alam semesta. Pembicaraan tentang arti penting fisika harus memasukkan arti penting pembahasan tentang intelek alam semesta. Segala macam ontologi yang masuk ke dalam cakupan fisika bertautan erat dengan intelek alam semesta.

Fisika, dalam visi filosofis Avicenna, secara kategoris mencakup materi, bentuk dan intelek alam semesta. Tatkala tiga kategori ontologi ini saling berhubungan satu sama lain, maka serta-merta tercipta konstruksi realitas duniawi yang sangat luas. Dengan demikian berarti, mustahil mengandaikan adanya sebuah materi tanpa bentuk, dan mustahil pula membayangkan keberadaan sebuah bentuk tanpa materi. Meski keduanya merupakan kategori yang berbeda, materi harus menyatu dengan bentuk, dan bentuk harus melengkapi keberadaan materi. Kemenyatuan materi dan bentuk hanya mungkin terjadi oleh adanya intelek alam semesta. Intelek alam semesta berkedudukan sebagai faktor pengikat dari terjadinya hubungan antara materi dan bentuk. Demikianlah konstruksi sesungguhnya dari keberadaan realitas duniawi.

Mengingat intelek alam semesta merupakan faktor pengikat antara materi dan bentuk, maka muncul aksioma filosofis yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Pertama, intelek alam semesta merupakan basis rasional dari keberadaan benda atau materi di alam semesta. Kedua, dengan adanya intelek alam semesta maka dimungkinkan timbulnya: (a) Gerak, (b) Waktu, (c) Kausalitas, dan (d) Ruang kosong. Kita melihat di sini, bagaimana intelek alam semesta memungkinkan timbulnya berbagai macam konfigurasi materi di alam semesta. Bahkan, dengan intelek alam semesta, tercipta harmoni pada totalitas relasi antara materi dan bentuk.

Apa dampak dari pandangan filosofis ini terhadap peradaban dan kebudayaan? Jawaban atas pertanyaan tersebut termaktub ke dalam rumusan filosofis Avicenna. Bahwa tanpa bentuk, materi sulit untuk dapat diidentifikasi eksistensinya. Sementara tanpa materi, bentuk merupakan realitas yang sepenuhnya absurd. Rumusan filosofis yang lantas niscaya adalah ini: materi dan bentuk merupakan dua esensi berbeda yang berdiri sendiri, di mana masing-masing keberadaannya bersifat independen, namun dapat disenyawakan satu sama lain melalui intelek alam semesta.

Sejatinya, kosntruksi peradaban dan kebudayaan mempertimbangkan secara saksama visi filosofis intelek alam semesta ini. Sebab, gradasi tertinggi dari intelek alam semesta adalah intelek manusia. Seperti halnya intelek alam semesta, intelek manusia merupakan faktor penghubung kemenyatuan materi dan bentuk dalam hamparan realitas Planet Bumi. Prinsip kemenyatuan materi dan bentuk dalam peradaban melahirkan ilmu pengetahuan dan cetak-biru (blue-print) teknologi. Sedangkan prinsip penyatuan materi dan bentuk dalam kebudayaan mengejawantah ke dalam terciptanya sistem nilai, pandangan dunia (Weltanschauung) dan estetika.

Tak pelak lagi, manusia merupakan satu-satunya mahluk dengan kapasitas intelek tertinggi, melampaui derajat intelek mahluk-mahluk lain, bahkan melampaui intelek malaikat (QS Al-A’raf [7]: 11). Itu karena, jiwa manusia merupakan jiwa rasional yang mampu merespons aksi-reaksi fisik dan aksi-reaksi abstrak. Saat merespons aksi-reaksi fisik, jiwa bekerja sama dengan raga. Tapi, saat merespons aksi-reaksi abstrak, jiwa manusia sepenuhnya rasional, independen dari pengaruh faktor fisik. Manusia, dengan jiwa rasionalnya itu, mampu memahami berbagai macam ontologi terlepas dari unsur-unsur fisiknya, dan karena itu pula jiwa manusia melampaui segala batasan partikularitas dan universalitas.

Dalam jiwa rasional manusia termaktub empat macam intelek, yaitu: (1) Intelek Potensial, (2) Intelek Habitual, (3) Intelek Aktual, dan (4) Intelek Diskursif. Intelek Potensial berkemampuan membentuk konsep dan menangkap makna-makna ontologis alam semesta. Intelek Habitual merupakan manifestasi dari potensialitas yang inherent pada diri manusia. Intelek Aktual merupakan kapasitas genuine pada diri manusia untuk dapat menangkap dan mencerap secara mandiri hakikat logika yang tersembunyi di balik realitas-realitas. Intelek Diskursif terbentuk oleh kemenyatuan subyek dan obyek berpikir, sehingga terkonstruksikan sebagai intelligible yang utuh, yang memungkinkan intelek manusia melakukan perjumpaan dengan wahyu Ilahi.

Dengan demikian, jiwa manusia bukan sekadar orde pembentuk perilaku-perilaku, seperti termaktub dalam cara pandang psikologi modern. Jauh lebih tinggi dari sekadar orde penentu perilaku-perilaku, jiwa manusia merupakan ontologi yang sangat kompleks. Jiwa bukan sekadar bentuk, tapi sekaligus sebuah substansi. Jiwa rasional manusia merupakan entitas yang riil dan sekaligus benar atau mengandung kebenaran. Sehingga tak mengherankan jika dalam jiwa manusia terdapat dimensi tumbuhan, binatang, dunia dan Ilahi.

Jiwa manusia yang sedemikian hebatnya menjadi domain niscaya bagi hadirnya intelek tingkat tinggi. Memang, pada seluruh ruang di alam semesta, dimungkinkan tumbuhnya intelek. Tapi, hanya dalam jiwa manusia intelek-intelek puncak dapat berfungsi secara benar. Puncak-puncak dari seluruh intelek alam semesta jauh lebih tepat dan lebih relevan manakala “mukim” di dalam jiwa manusia. Intelek inilah yang keagungannya secara lebih lanjut mengejawantah dalam peradaban dan kebudayaan.

Hingga beberapa dekade ke depan, humanisme masih bakal diperhadapkan dengan krisis peradaban dan kebudayaan. Penyebab pokoknya dapat ditelusuri pada tidak adanya kejelasan hubungan antara intelek alam semesta, intelek manusia, dan jiwa manusia. Hal fundamental yang sesungguhnya tak terelakkan adalah ini: peradaban dan kebudayaan terbentuk sebagai hasil akhir dari proses psikologi yang paripurna. Proses psikologi dimaksud bergerak dari gradasi rendah menuju gradasi tinggi, yaitu bergerak dari jiwa tumbuhan menuju jiwa binatang, ke jiwa manusia, berlanjut ke jiwa dunia dan lalu menggapai jiwa yang Ilahiah (Jiwa Tumbuhan → Jiwa Binatang → Jiwa Manusia → Jiwa Dunia → Jiwa Ilahiah). Berpilin-pilinnya krisis sistem kehidupan merupakan dampak logis dari tegaknya bangunan peradaban dan kebudayaan di atas fundamen jiwa binatang, yang masih jauh dari derajat jiwa yang Ilahiah.

Sejalan dengan faktualitas bahwa konstruksi peradaban dan kebudayaan tegak di atas fundamen jiwa binatang, maka pengerahan intelek manusia takkan mungkin bermakna signifikan. Bukan intelek diskursif (al-‘aql bi al-mustafad) yang turut mengawal eksistensi peradaban dan kebudayaan. Justru, peradaban dan kebudayaan benar-benar berkedudukan sebagai sumber tercetusnya krisis karena mencuatnya dua hal pokok.

Pertama, para pihak perancang bangun peradaban dan kebudayaan tak terlatih bergumul dengan proses transformasi secara gradualistik intelek: Potensial – Habitual – Aktual – Diskursif. Kedua, para perancang peradaban dan kebudayaan belum berjiwa dunia dan belum berjiwa Ilahiah, sehingga dilanda kemiskinan eksistensial untuk dapat mencerap hakikat intelek alam semesta dalam kaitannya dengan intelek manusia dan jiwa manusia.[]
Anwari WMK


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

1 Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here