Beranda Filsafat Sungai Di Bumi

Sungai Di Bumi

97
5
Sebarkan
Foto: Ramdani/sewarga

SUNGAI DI BUMI
DALAM SEMIOTIKA TRANSENDEN AL-QUR’AN

Pembacaan secara semiotik terhadap Al-Qur’an menunjukkan, bahwa sungai merupakan ontologi penting di bumi yang setara dengan keberadaan gunung, laut, pohon dan jalan. Imperatif Qur’ani berisikan penegasan, bahwa tata kelola sungai mustahil dicerai-beraikan dengan makna gunung, laut, pohon dan jalan. Pertanyaan hepotetisnya kemudian, adakah sebuah format tata kelola sungai yang sepenuhnya berjalin kelindan dengan keberadaan gunung, laut, pohon dan jalan?

I. PENDAHULUAN

Al-Qur’an menyuguhkan pandangan spesifik tentang sungai serta makna sungai bagi kehidupan umat manusia. Begitu signifikannya sungai, hingga Al-Qur’an mengilustrasikannya sebagai bagian inherent dari kenikmatan surga. Dalam Al-Qur’an bertebaran teks yang menjelaskan ihwal keberadaan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Tak terelakkan jika sungai berdimensi transenden dalam bahasa dan pengucapan Al-Qur’an. Sebagaimana tertuang dalam QS. An-Nisa’ [4]:122, termaktub narasi sebagai berikut:

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?”

Narasi yang senanda dengan itu termaktub dalam QS. At-Taubah [9]:89:

“Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Pembicaraan tentang sungai dalam tulisan ini berjalin kelindan dengan realitas bumi. Tulisan ini dikonstruksi berdasarkan pembacaan secara semiotik terhadap Al-Qur’an tentang sungai di bumi. Apa dan bagaimana sungai di bumi dalam tilikan filosofis Al-Qur’an merupakan fokus utama tulisan ini.

II. PENENTU KONSTELASI BUMI

Pembacaan secara semiotik terhadap Al-Qur’an menunjukkan bahwa sungai berkedudukan sebagai salah satu varibel penentu konstelasi Planet Bumi. Dalam QS. An-Nahl [27]:61 tertera teks suci sebagai berikut:

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)-nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”

Dimensi semiotik dalam teks suci ini memperlihatkan adanya beberapa hal mendasar berkenaan dengan bumi. Secara prinsip, teks suci ini mengklarifikasi, bahwa sesungguhnya bumi merupakan zona layak huni bagi mahluk berakal dalam kategori manusia. Namun kemengadaan (being) Planet Bumi yang sedemikian rupa sebagai zona hunian itu tak dapat dilepaskan dari peran substansial sungai. Sungai bukan sekadar pelengkap di bumi, tapi lebih dari itu penentu kelaikan bumi sebagai zona hunian mahluk manusia. Bahwa demi mendukung sistem kehidupan (life system) di bumi, sungai-sungai terkonstruksi sedemikian rupa sebagai celah yang meliuk-liuk elok di permukaan bumi, membentang ke berbagai penjuru arah mata angin demi memenuhi kebutuhan manusia.

Makna signifikan sungai dalam konteks ini setara dengan makna signifikan gunung, di mana gunung digambarkan sebagai faktor pemerkokoh bumi. Sungai juga memiliki makna signifikan yang setara dengan adanya kekuatan pemisah dua lautan, antara asin dan tawar.

Sesungguhnya, QS. An-Nahl [27]:6 ini merupakan teks suci yang menegaskan adanya empat macam ontologi yang turut penentukan pemartabatan hidup umat manusia dalam jangka panjang. Empat ontologi dimaksud adalah: (1) Bumi, (2) Sungai, (3) Gunung, dan (4) Lautan. Empat ontologi ini saling berjalin kelindan satu sama lain. Mengabaikan yang satu berarti sama dengan mengabaikan yang lain. Demi memartabatkan hidup manusia, maka niscaya untuk terus-menerus merawat bumi. Dan keniscayaan merawat bumi mempersyaratkan diberlakukan usaha-usaha rehabilitasi secara sungguh-sungguh terhadap keberadaan sungai, gunung dan lautan. Terawatnya sungai, gunung dan lautan secara keseluruhan membentuk koherensi penyelamatan bumi dari ancaman kehancuran yang begitu degradatif.

Imperatif moral dari QS. An-Nahl [27]:6 ini sesunguhnya sangatlah jelas dan gambang. Bahwa rezim kekuasaan di mana pun di muka bumi memikul tugas-tugas besar merawat bumi melalui strategi ekonomi-politik bervisi kultural menyelamatkan sungai, gunung dan lautan.

III. STABILITAS SISTEMIK BUMI

Dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 3 termaktub firman Tuhan sebagai berikut:

“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Disimak berdasarkan perspektif kosmologis, bumi adalah entitas padat di alam semesta berbentuk bulat. Seperti pada umumnya planet, maka bumi senantiasa bulat. Tetapi luasan-luasan hunian dan atau luasan tertentu habitat mahluk hidup di bumi berbentuk datar, atau terhampar secara mendatar. Inilah hakikat keterbentangan bumi, yaitu dirasakan membentang oleh mahluk-mahluk hidup yang esensinya berpijak pada prinsip-prinsip mobilitas. Maka, keterbentangan bumi memiliki makna spesifik dalam konteks: (i) Tegaknya gunung-gunung, (ii) Mengalirnya air di sungai-sungai, (iii) Ketersediaan (produksi) buah-buahan.

Dalam konteks keterbentangan bumi, maka gunung memiliki makna signifikan sebagai pembentuk klimatologi yang kondusif bagi tumbuh suburnya tanaman dan sehatnya kehidupan mahluk-mahluk biologis. Dalam konteks keterbentangan bumi, sungai memiliki makna signifikan sebagai penyedia nutrisi bagi tumbuh suburnya tanaman dan pemenuhan kebutuhan dasar mahluk hidup.

Dalam konteks keterbentangan bumi, buah-buah memiliki makna signifikan sebagai penyedia nutrisi bagi kelangsungan hidup mahluk-mahluk bernyawa.

Bagaimana pun, bumi yang pada hakikatnya bulat merupakan situasi atau keadaan yang kontras dengan keterbentangan bumi secara horizontal. Tapi bulat dan datar ini tak dirasakan sebagai kontradiksi oleh manusia, lantaran terkait erat dengan keberadaan tiga ontologi: gunung, sungai dan tumbuhan. Di luar entitas manusia, trio ontologi inilah sesungguhnya yang paling membutuhkan keterhamparan dan atau keterbentangan bumi.

Dengan keterbentangan bumi itulah, maka gunung, sungai dan tumbuhan berjalin kelindan satu sama lain untuk secara sistemik memberi jaminan terhadap keberadaan mahluk-mahluk bernyawa dalam jangka panjang. Ini pula yang dapat menjelaskan, mengapa usaha-usaha peningkatan mutu pertanian (sebagai kerangka aksiologis bagi bermaknanya tumbuhan dan buah-buahan) takkan pernah bisa dilepaskan dari fungsi alamiah sungai dan gunung.

5 Komentar

Comments are closed.