Beranda Politik Artikel ekonomi politik

Artikel ekonomi politik

17
0
Sebarkan

Rupiah anjlok, rakyat berharap pemerintah segera mengambil langkah preventif.

       Selasa, 8 mei 2018, pukul 09.30 WIB Rupiah menegendap di angka 14.027 per U$$1 telah membukakan mata defresi bahwa saat ini rupiah terdefresi terhadap dollar, dollar menguat relatif terhadap rupiah. Anjlokan rupiah di angka 14 ribu perdollar membuat rakyat mengelus dada dan berharap pemerintah segera mengambil langkah preventif dalam mengatasinya.
Fakta teoritis bahwa harga mata uang suatu negara relative terhadap mata uang negara lain layaknya rupiah dengan valuta asing (foreign exchange) dalam kegiatan perekonomian politik mendeskrifsikan bahwa saat ini indirect quotation sangat memperihatinkan, dimana nilai rupiah perdollar menuju titik rendah. Pemerintah yang berperan penting dalam menggulirkan roda perekonomian negara menjadi sorotan utama rakyat untuk mengambil langkah preventif dalam menekan lemahnya rupiah di mata dollar. Salah satu solusi dari kajian terhadap ilmu ekonomi, ketika rupiah terdefresi terhadap dollar atau valuta asing lainnya yaitu dengan meningkatkan produk domestik yang berasal dari sektor-sektor unggulan negara dengan berorientasi ekspor sehingga hasilnya dapat memenuhi konsumsi domestik dan dapat di ekspor untuk mendongkrak jumlah devisa negara. Hal ini karena ekspor adalah salah satu kegiatan menghasilkan devisa untuk di pakai membayar utang luar negeri.
Sejak dahulu hingga saat ini, ekspor di indonesia yang praktis masih dikatakan jalan ditempat hingga dianggap dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah yang menjorok kedalam indirect quotation berdampak defreciation. Hal ini dapat dilihat kebelakang perkembangan ekspor di indonesia yang telah dirangkum secara lengkap oleh Kwik Kian Gie dalam buku kebijakan ekonomi politik yang telah ia paparkan kinerja ekspor yang tidak signifikan membaik sejak tahun 1997. Pada tahun 1997 nilai ekspor barang dan jasa sebesar 63,239 miliar dollar AS, tahun 2002 hanya mencapai 65,347 miliar dollar AS. Ini berarti kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri kedepan akan tetap sangat berat atau bahkan relatif susah di prediksi untuk mencapai keringanan. Selain dari paparan tokoh analis ekonomi yang sangat kritis ini, kita juga bisa melihat dan membandingkannya perhitungannya dalam persentase BPS (badan pusat statistik).
Selain itu, penerintah yang layaknya nahkoda dalam pelayaran ekonomi negara harus mampu membatasi nilai impor karena dengan meningkatnya nilai impor indonesia akan membuat permintaan terhadap valas (khususnya dollar) semakin bertambah. Bertambahnya permintaan terhadap dollar maka nilai tukar dollar pun akan meningkat dan nilai rupiah anjlok, hal ini sesuai dengan hukum permintaan dalam ilmu ekonomi yang tidak bisa di ganggu gugat kebenarannya.
Dari paparan solusi diatas mengenai permasalahan ekonomi politik saat ini diharapkan mampu memberi jalan keluar bagi negara dalam menggenggam keseimbangan demi kesejateraan rakyatnya. Karena sesungguhnya perekonomian negara berkembang tidak akan lepas dari anjlokan-anjlokan ataupun ketidak tetapan nilai mata uang, namun hal itu adalah tantangan yang pastinya masih bisa diatasi dengan modal keinginan dalam kegigihan memperjuangkan kesejahteraan dan kestabilan negaranya tanpa unsur kapitalis atau menguntungkan golongan tertentu.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

Please enter your comment!
Please enter your name here