Beranda Headline Peran penghayat kepercayaan dalam pengembangan spiritual

Peran penghayat kepercayaan dalam pengembangan spiritual

14
0
Sebarkan

Kediri. Pembinaan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kebupaten Kediri bekerjasama dengan penghayat kepercayaan se-Kabupaten Kediri, dan acara ini diadakan di ruang Kilisuci areal Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri. Acara tersebut dihadiri ketua cagar budaya Kediri Drs. Eko Ediono, kepala bidang sejarah Purbakala Dinas Pariwisata Kediri Yuli Purwantoko, kepala bidang administrasi Dispendukcapil Kediri Sri Ilham Wahyu Subekti, Pabung Kodim Kediri Mayor Inf Didik Sugeng Kurniawan, senin (14/05/2018)

Yuli Purwantoko mengungkapkan, kepercayaan kepada Tuhan YME saat ini diyakini dan diakui di Indonesia dengan tujuan untuk tidak menghilangkan kebudayaan. Demikian juga layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa pada satuan pendidikan ,akan menambah pengetahuan para pendidik, sekaligus mengembangkan kebudayaan.

“Saat ini selain agama yang sudah disahkan di Indonesia, ada satu lagi yaitu Penghayat Kepercayaan. Kendala kami ,siapa nantinya Guru yang bisa mengajar Penghayat Kepercayaan, untuk itu nanti kita mengirimkan ke Kementerian Pendidikan ,agar diseleksi untuk menjadi Guru.

Pembinaan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa ini juga diikuti Ketua paguyupan Persada Suhardi, ketua paguyuban Murti Tomo Waskito Sasongko, ketua paguyuban Sumarah Mukminin, ketua paguyuban Sri Joyoboyo Sutijono, ketua paguyuban Kapribaden Budi Hartoyo dan ketua paguyuban Mojopahit Slamet.

“Kita harus bangga, karena saat ini untuk Penghayat Kepercayaan sudah masuk dalam kurikulum pendidikan dan itu sudah disampaikan oleh Menteri Pendidikan RI. Untuk itu, mari kita mendidik budaya anak Indonesia dengan baik dan jangan sampai terlantar ,karena budaya adalah benteng kuat negara ini,” kata Eko Ediono.

Menurutnya, adanya pola pikir yang berbeda antara generasi muda dan generasi tua ini terjadi sampai kapanpun, apa bila tidak saling mengingatkan. Saat ini lanjutnya, ada gerakan moral mengembalikan karakter bangsa, revolusi mental dan penguatan karakter  melalui pembinaan jiwa spiritual.

“Revolusi Mental dimulai dari diri sendiri, menjadi teladan kemudian menjadikan tuntunan, akan tetapi saat ini yang terjadi sudah lain, yaitu bisa bicara akan tetapi tidak bisa menjalankan, dan saat ini banyak orang bisa memberikan tuntunan akan tetapi tidak bisa menjadi panutan,” pungkasnya.

 


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

Please enter your comment!
Please enter your name here