Beranda Olahraga Skandal Revolusi

Skandal Revolusi

14
0
Sebarkan

Penulis :Rifki Rahman Taufik

Apakah yang anda ketahui tetang Revolusi? Apakah masih ada para akademisi yang loyal pada rakyat, dan pada kemanusiaan dan keadilan. Negeri ini dulu didirikan dengan akal sehat, bukan dengan akal miring. Baca kembali buku “indonesia menggugat” yang di tulis oleh Ir. Soekarno, yang sekarang sudah menjadi buku klasik, itu adalah salah satu bukti bahwa negeri ini didirikan dengan akal-sehat. Dan jauh sebelum seokarno ada panggeran cerdas bernama diponegoro, yang karena kegelisahannya terhadap nasip rakyat yang makin hari makin miskin itu, dan kerena pemikiran-pikirannya itu maka ada perang diponegoro dan perang-perang gerilya lainnya (revolusi). Meski Diponegoro kalah tapi semangat dan kecerdasannya itu jadi semacam peletik bara dalam sekam. Hingga muncullah generasi pemikiran. Bukan generesi tanpa akal, yang selama 350 tahun hanya memberontak pada VOC dengan bambu runcing.

Bahkan ada seloroh, jika seluruh bambu di negeri ini dijadikan bambu-runcing, Tetap saja akan kalah apabila berhadapan dengan senjata canggih belanda maupun jepang. Itu artinya, bapak-ibu pendiri negeri ini mengunakan akal-sehat untuk melahirkan negeri ini, saat menuntut belanda dihadapan mahkamah PBB: karena belanda banyak ingkari perjanjian-perjanjian dengan merugikan pribumi. hingga jadi negeri yang merdeka dan berdaulat.

Tetapi politik hari ini justru membuat banyak orang lekas naik darah, lekas marah-marah tanpa arah, pendekatan, buntu akal bolong amarah. Karenanya, Akademisi yang diharapkan berpihak pada akal sehat, untuk membuat analisa dan kritik. Kini justru malah berbalik melawannya.

Akademisi kini bukan intelektual lagi, mereka malah menjadi buzzer penguasa. Karena itulah, penguasa malah semakin ponggah. Hanya mampu bermimpi revolusi, tapi tidur di ranjang feodal. Begitu bangun dan sadar ya langsung keok. Sehingga disana-sini rakyat menjerit, tapi harga-harga malah melangit. Di eropa, harga tomat naik 0,1% saja, seorang perdana menteri melepas jabatan, karena dalam janji kontrak politiknya ia akan mundur jika gagal untuk menurunkan harga. Sedangkan disini, jangankan listrik, BBM, dolar. Sembako atau daging saja, sudah sampai serak tengorokan kita berteriak, “Woi.. Turun Woi..” eh, buset! Kenaikan itu Malah di carikan “dalih” agar naiknya itu terkesan sebagai ide revolusioner menstabilkan harga.

Dulu rakyat hidup tidak sesusah sekarang, mencari kerja bisa di bilang sangat gampang. Tapi kini, ada slogan; kerja, kerja, kerja!! namun astaga, buruh asing yang kerja. Wong cilik, anak bangsa sendiri tetap ngnggur juga. Dan justru angka pengangguran semakin tinggi, sehingga banyak yang terpaksa meninggalkan keluarga yang tiap hari di cinta, untuk jadi TKW, yang jaminan keselamatannya tak pasti pula.

Semestinya, para akademisi itu bukan loyalis pemerintah, tapi kepada intelektualitas. Dengan begitu, Revolusi bisa benar-benar berdiri tegap membela kepentingan rakyat. Bukan sebaliknya, mengembangkan mental jadi buzzer penguasa. Itu namanya, Skandal revolusi. Dan pemerintah, semestinya turun langsung, dan minta saran dari akademisi, atau minta saran dari akal sehat mereka. Bukan malah sibuk saling manuver kubu politik dan saling mencitrakan diri hidup sederhana. Demikian itu tidak berguna bagi bangsa. Buat apa, Sederhana namun ponggah. Itu tanda otaknya nggak lurus, otak nggak benar, otak nggak cepet merespon problem. Dan itu bahaya. Bahaya karena cuma mampu plonga-plongo nggak punya pemikiran, meski punya banyak hadiah untuk di bagikan.

Ada cerita tentang wasiat terakhir ibu Pipi. Setelah beberapa hari hari di ruang ICU, keadaan ibu pipi berangsur stabil. Keesokan pagi harinya, dia dipindahkan ke ruang biasa, tetapi peralatan pernafasannya masih belum dilepas. Pak Lurah, joko, berniat untuk menjengguk bu pipi. Lantaran bu pipi itu dianggap sebagai warga yang cukup terhormat dilingkungannya, Meski bu pipi bukan orang kaya. Bersama istrinya, pak lurah, joko, berkunjung ke rumah sakit di sore hari.

Bu pipi tampak lemah, rona wajah & pipinya pucat-pasi tampak tak ada kemerahannya. Tetapi bu pipi masih dapat mengenal tamu-tamunya. Dia memandang Bu Lurah dengan mulut komat-kamit. Bu Lurah perlahan menghampiri Bu pipi sambil mendekatkan telinganya kebibir Bu pipi. Pak Lurah yang berada di sisi yang lain pun turut mendekati bagian kepala Bu pipi.

Tetapi, tiba-tiba Bu pipi mengalami sesak nafas dan dadanya turun naik. Dalam keadaan kalang kabut, Pak Lurah melihat tangan Bu pipi seolah-oleh minta pulpen dan kertas. Kebetulan pak Lurah membawa beberapa helai kertas kecil di saku-nya. Lalu, seketika itu juga menyerahkannya pada Bu pipi. Nafas Bu pipi semakin sesak dan akhirnya terhenti setelah selesai menuliskan kalimat terakhirnya. Demi menghormati mendiang Bu pipi, Pak Lurah tidak mau membacakan wasiat yang telah ditulis Bu pipi di depan jenazahnya ketika itu.

Keesokan-nya, pasca jenazah dimakamkan, barulah pak Lurah memanggil semua ahli waris keluarga bu pipi dan memberi tahu mereka bahwa bu pipi sempat menuliskan pesan.

Pesan terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ahli warisnya merasa binggung, karena setahu mereka bu pipi sudah tidak memiliki harta apa-apa, semua sudah habis buat biaya berobatnya di rumah sakit kemarin. Dengan gayanya yang sederhana, perlahan Pak Lurah mengeluarkan secarik kertas yang ditulis oleh mendiang bu pipi kemarin sambil berkaca-kaca matanya. Tiba-tiba mukanya merah padam dan kertas tersebut tiba-tiba jatuh kelantai. Lalu pak Lurah berlari keluar dari ruangan tersebut. Melihat gelagat seperti itu, buru-buru anak sulung bu pipi mengambil secarik kertas yang jatuh kelantai dan yang membuat merah muka pak Lurah joko itu. Lalu membacanya. Ternyata, wasiat itu berbunyi, “tolong jangan injak selang oksigenku, Pak Lurah!”.

Pesan yang bisa kita tarik dari cerita tersebut adalah, dalam setiap peristiwa ada pesan yang semestinya tidak ditangguhkan untuk dibaca. Maka negeri ini harus dipimpin oleh pemimpin yang cerdas dan punya pikiran. Karena dengan kecerdasan itulah ia mampu menegakkan Revolusi yang telah di mulai oleh para pendiri bangsa.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

Please enter your comment!
Please enter your name here